DALAM menjalani kehidupan, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Ada kalanya kita lalai dalam beribadah, menyakiti hati orang lain tanpa sengaja, atau terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga melupakan kedekatan dengan Allah. Islam mengajarkan satu amalan yang sederhana, tetapi memiliki keutamaan luar biasa, yaitu istigfar atau memohon ampun kepada Allah.
Istigfar bukan hanya ucapan Astaghfirullah yang diulang di lisan, melainkan ungkapan penyesalan, kerendahan hati, dan harapan agar Allah menghapus dosa serta membimbing kita menjadi pribadi yang lebih baik. Rasulullah bahkan mencontohkan untuk memperbanyak istigfar setiap hari, padahal beliau adalah manusia yang telah diampuni dosanya.
Baca Juga: Tidak Semua Keterlambatan Berarti Kegagalan
Keutamaan Istigfar yang Jarang Disadari
Menghapus dosa dan membuka pintu taubat
Keutamaan terbesar istigfar adalah menjadi jalan menuju ampunan Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa siapa saja yang berbuat kesalahan lalu memohon ampun kepada-Nya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menjadi kabar gembira bahwa pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Karena itu, jangan pernah merasa dosa terlalu besar untuk diampuni. Yang Allah cintai adalah hamba yang mau kembali dan memperbaiki dirinya dengan sungguh-sungguh.
Menenangkan hati yang gelisah
Banyak orang mencari ketenangan melalui berbagai cara, padahal salah satu penyejuk hati adalah memperbanyak istigfar. Ketika hati dipenuhi penyesalan, kecemasan, atau kegelisahan, istigfar mengingatkan kita bahwa Allah adalah tempat kembali yang paling sempurna. Dengan mengakui kelemahan diri, hati menjadi lebih lapang dan tidak terus-menerus dibebani rasa bersalah.
Mengundang keberkahan rezeki
Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Allah memerintahkan kaumnya agar beristigfar kepada-Nya. Sebagai balasannya, Allah menjanjikan turunnya hujan, bertambahnya harta, anak-anak, serta kebun dan sungai sebagai bentuk keberkahan. Para ulama menjelaskan bahwa istigfar bukan jaminan menjadi kaya secara instan, melainkan sebab datangnya keberkahan dalam rezeki dan kehidupan.
Rezeki yang berkah bukan hanya berupa uang, tetapi juga kesehatan, keluarga yang harmonis, dan hati yang merasa cukup.
Mengikuti sunnah Rasulullah
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah beristigfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari. Dalam riwayat lain disebutkan 100 kali. Ini menunjukkan bahwa istigfar bukan hanya amalan bagi orang yang banyak berbuat dosa, tetapi juga ibadah harian bagi orang-orang yang ingin semakin dekat kepada Allah.
Jika manusia terbaik saja memperbanyak istigfar, maka kita lebih layak untuk membiasakannya setiap hari.
Cara sederhana mengamalkannya
Tidak ada batasan khusus untuk beristigfar. Kita bisa membacanya setelah shalat, ketika bangun pagi, menjelang tidur, saat berkendara, atau di sela-sela pekerjaan. Salah satu bacaan yang ringan adalah:
Astaghfirullaha wa atuubu ilaih “Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Amalan kecil ini akan terasa besar apabila dilakukan dengan hati yang hadir dan disertai keinginan untuk memperbaiki diri.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, istigfar bukan sekadar dzikir, melainkan jembatan yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya. Semakin sering kita memohon ampun, semakin kita menyadari bahwa hidup ini bergantung sepenuhnya kepada rahmat Allah. Semoga lisan kita selalu basah dengan istigfar dan hati kita senantiasa dipenuhi harapan akan ampunan-Nya. [DW]





