NEPAL tiba-tiba menjadi sorotan setelah banjir bandang yang terjadi akhir Agustus lalu. Publik pun menghubungkan bencana itu dengan peristiwa pembakaran masjid di Nepal yang terjadi satu bulan sebelumnya.
Penduduk Nepal
Nepal merupakan negara yang berbatasan langsung dengan dua negara besar: India di sebelah selatan dan Cina di sebelah utaranya. Tidak heran jika agama dan budaya Nepal sangat terpengaruh dengan dua negara itu.
Agama terbesar di Nepal adalah Hindu (80 persen): pengaruh dari India, dan Budha (10 persen): pengaruh dari Cina. Sementara Islam hanya 5 persenan. Begitu pun dengan agama lain seperti Kristen.
Jumlah penduduk Nepal hampir 30 juta orang. Sebagian besar dari mereka atau 65 persen bekerja sebagai petani dan peternak. Sebagiannya lagi sebagai pemandu wisata atau pengusaha di bidang wisata.
Hal ini karena Nepal dikelilingi kawasan wisata dunia, seperti Pegunungan Himalaya dan Gunung Everest yang merupakan tertinggi di dunia.
Islam di Nepal
Nepal merupakan salah satu negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa asing. Bahasa mereka merupakan asli bahasa Nepal.
Lebih dari tiga ratus tahun, Nepal sebagai negara kerajaan Hindu. Hal ini merupakan satu-satunya di dunia. Baru pada tahun 2008, pemerintahan berubah menjadi negara sekuler dan membolehkan keberadaan agama lain seperti Islam dan Kristen.
Namun begitu, pada tahun 2015, Nepal mensahkan konstitusi yang melarang adanya kegiatan ‘mempengaruhi’ agama lain ke warga Nepal. Dengan kata lain, dakwah baik Islam maupun lainnya dilarang dilakukan di Nepal. Deliknya bisa hukuman penjara.
Hal ini karena adanya kekhawatiran mereka terhadap pesatnya perkembangan agama Islam di Nepal. Saat ini saja, sudah berdiri sekitar 4 ribu masjid di Nepal. Tidak heran jika konflik horizontal warga Hindu dengan Islam begitu rawan terjadi. Mereka begitu rentan terprovokasi melalui media sosial.
Termasuk, peristiwa pembakaran masjid Jami Chaurharwa di distrik Siraha, 26 Juli 2026. Pembakaran terjadi setelah konflik horizontal terhadap umat Islam yang dituduh merusak budaya lokal.
Tidak kurang dari tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Bahkan, pemerintah Nepal memberlakukan jam malam untuk mencegah konflik meluas.
Secara umum, warga Nepal bisa berbaur dengan warga beragama apa saja. Tapi karena ulah aliran Hindu ekstrim di Nepal, konflik karena agama, terutama terhadap Islam, menjadi begitu rawan terjadi.
Namun, bencana besar yang terjadi di Nepal setelah pembakaran masjid, kian menyadarkan warga Nepal bahwa jangan ‘macam-macam’ dengan Islam. [Mh]


