MUSIM kemarau tahun 2026 membawa perhatian besar bagi Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang sedang berkembang masih berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan membuat musim kemarau menjadi lebih kering, lebih panjang, dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.
Meski terdengar mengkhawatirkan, El Nino bukan berarti Indonesia akan terus-menerus mengalami cuaca panas tanpa hujan. Fenomena ini adalah perubahan iklim alami yang terjadi akibat menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya di Indonesia umumnya berupa berkurangnya curah hujan, terutama ketika El Nino berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Baca Juga: Pantai Widarapayung yang Memesona Berada di Cilacap
El Nino Kuat Mengintai Indonesia Saatnya Bersiap dari Sekarang
Mengapa El Nino 2026 Perlu Diwaspadai?
BMKG menyebutkan bahwa sekitar 70 persen wilayah Indonesia berpotensi merasakan dampak El Nino pada tahun ini. Wilayah yang diperkirakan paling rentan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Curah hujan di daerah-daerah tersebut diprediksi berada di bawah normal selama puncak musim kemarau.
Selain itu, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026. Pada periode inilah kondisi kering menjadi lebih dominan sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampaknya.
Dampak yang Bisa Dirasakan Masyarakat
El Nino tidak hanya memengaruhi cuaca, tetapi juga berbagai sektor kehidupan. Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan debit sungai dan waduk menurun sehingga pasokan air bersih menjadi lebih terbatas. Di sektor pertanian, kekurangan air berisiko mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen.
Risiko lain yang tak kalah penting adalah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lahan gambut yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, sementara asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Apa yang Perlu Dipersiapkan?
Menghadapi El Nino bukan berarti panik, melainkan membangun kebiasaan yang lebih siap menghadapi musim kering. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat:
Menghemat penggunaan air dan menampung air hujan jika memungkinkan.
Menyiram tanaman pada pagi atau sore hari agar air tidak cepat menguap.
Tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu karhutla.
Menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih dan menghindari aktivitas berat saat cuaca sangat panas.
Rutin memantau informasi prakiraan cuaca resmi dari BMKG sebelum beraktivitas.
Sementara itu, pemerintah juga memperkuat langkah mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca, pengelolaan waduk untuk menjaga ketersediaan air, pembasahan lahan gambut, hingga peningkatan patroli titik panas di wilayah rawan kebakaran.
Tetap Waspada meski Hujan Masih Mungkin Turun
Menariknya, BMKG menjelaskan bahwa El Nino tidak menghilangkan peluang hujan sepenuhnya. Hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi di beberapa wilayah akibat dinamika atmosfer regional. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa musim kemarau tahun ini tetap bisa diselingi hujan, meski secara umum kondisi kering lebih mendominasi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Fenomena El Nino mengingatkan kita bahwa perubahan iklim memerlukan kesiapsiagaan bersama. Mulai dari menghemat air, menjaga lingkungan, hingga tidak melakukan pembakaran lahan, setiap langkah kecil memiliki peran penting dalam mengurangi dampak yang lebih besar. Dengan informasi yang tepat dan persiapan sejak dini, masyarakat dapat menghadapi musim kemarau dengan lebih tenang dan tangguh. [DW]





