PERNAHKAH kita melihat seseorang yang hidupnya tampak serba berkecukupan? Usahanya lancar, hartanya melimpah, keluarganya bahagia, sementara di sisi lain ia masih terlihat sering melakukan maksiat atau mengabaikan kewajiban kepada Allah. Tak jarang muncul pertanyaan di dalam hati, “Mengapa Allah tetap memberinya begitu banyak rezeki?”
Pertanyaan itu manusiawi. Namun sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk tidak mengukur keridhaan Allah hanya dari banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki seseorang. Sebab rezeki bukanlah ukuran cinta Allah, melainkan salah satu bentuk ujian yang diberikan kepada setiap hamba dengan cara yang berbeda.
Baca Juga: Peran Penting Stasiun Cipendeuy di Jalur Selatan Pulau Jawa
Saat Rezeki Bukan Selalu Tanda Ridha Allah
Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Ada yang diberi dalam bentuk kekayaan, ada yang dianugerahi kesehatan, ilmu, keluarga yang harmonis, waktu luang, hingga kesempatan berbuat baik. Semua itu adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Sering kali kita terlalu fokus menghitung apa yang telah kita dapatkan. Kita bersyukur saat gaji naik, usaha berkembang, atau rumah impian terwujud. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita renungkan, yaitu: Apa yang sudah kita lakukan dengan nikmat tersebut?
Harta bisa menjadi jalan menuju surga jika digunakan untuk bersedekah, membantu orang tua, menyantuni anak yatim, dan menebarkan manfaat. Sebaliknya, harta yang sama dapat menjadi sebab penyesalan jika dipakai untuk kesombongan dan kemaksiatan.
Begitu pula dengan kesehatan. Tubuh yang kuat bukan sekadar kesempatan bekerja lebih keras, tetapi juga kesempatan memperbanyak ibadah. Waktu yang panjang bukan hanya untuk mengejar dunia, melainkan peluang memperbaiki diri sebelum ajal tiba.
Karena itu, jangan mudah iri kepada rezeki orang lain. Kita tidak pernah tahu apakah limpahan nikmat yang mereka miliki adalah karunia yang membawa keberkahan atau justru ujian yang berat. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap nikmat yang Allah titipkan kepada kita digunakan di jalan yang diridhai-Nya.
Mari jadikan setiap rezeki sebagai sarana mendekat kepada Allah. Saat menerima penghasilan, ingatlah hak orang lain yang ada di dalamnya. Saat diberi ilmu, ajarkan kepada sesama. Saat memiliki waktu, gunakan untuk memperbanyak amal saleh. Sebab pada akhirnya, yang akan ditanya bukan seberapa banyak nikmat yang kita miliki, melainkan bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menjadikan rezeki kita penuh keberkahan, menumbuhkan rasa syukur di hati, serta menjauhkan kita dari nikmat yang melalaikan. Aamiin
Sumber: Ustadzah Oki Setiana Dewi





