ILMU itu mengantarkan empunya menjadi mulia. Meskipun, tak mudah meraih ilmu.
Ada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu mencintai ilmu. Meskipun, usianya masih sangat belia. Beliau adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Ia lahir tiga tahun sebelum peristiwa hijrah. Dengan kata lain, kehidupannya bersama Rasul saat dirinya di rentang usia sebelum tiga belas tahun.
Namun begitu, kecintaannya dengan ilmu, menjadikannya selalu ingin dekat bersama Rasulullah. Terlebih lagi, Abdullah punya hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah. Ia masih sepupu dengan Rasulullah. Selain itu, bibinya merupakan istri Rasulullah.
Begitu banyak momen di mana Abdullah bisa memanfaatkan kedekatannya untuk selalu menimba ilmu dari Rasulullah. Bahkan, Rasulullah pernah mendoakannya secara khusus: Ya Allah anugerahkan anak ini kefakihan dalam agama.
Ketika Rasulullah wafat, usia Abdullah sekitar tiga belas tahun, usia yang masih sangat belia. Tapi, di usia belia itu, Abdullah kerap mengunjungi para sahabat Nabi yang senior untuk mendapatkan kutipan hadis-hadis dari Rasulullah.
Ketika yang dikunjungi sedang tidur atau masih dalam kesibukan, ia rela menunggu di luar, hingga yang ditunggu keluar rumah untuk ditemui.
Seorang sahabat senior pernah kaget ketika mendapati Abdullah sudah lama berada di rumahnya. “Wahai sepupu Rasulullah, kenapa tidak mengirim utusan saja untuk menanyakan hal yang ingin kau ketahui?” ucap tuan rumah.
Itulah yang sering dilakukan Abdullah bin Abbas. Ia akan mendatangi sahabat-sahabat senior untuk dimintai ilmunya, di mana pun lokasinya, dan bagaimana pun caranya.
Dengan begitu, apa yang dia ketahui tentang ilmu dari Rasulullah merupakan kumpulan dari begitu banyak ilmu yang tersebar di para sahabat. Sehingga, Abdullah menjadi lebih berilmu dari para sahabat senior yang lain.
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menunjukkan hal itu kepada para sahabat. Saat itu, di sebuah ‘reunian’ pejuang Perang Badar, Umar datang menyertakan Abdullah yang masih belia.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Kenapa kau ajak anak ini, aku pun punya anak seusia dia (tapi tak aku sertakan).”
Umar menanyakan kepada mereka yang hadir tentang arti dari Surah An-Nashr. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ayat itu memerintahkan kita untuk bertasbih dan memuji Allah ketika meraih kemenangan.”
Sementara, para sahabat yang lain menjawab ‘tak tahu’, dan yang lainnya terdiam.
Umar mempersilakan Abdullah bin Abbas untuk memberikan tafsirannya. Abdullah pun mengtakan, antara lain, “Ayat itu menunjukkan bahwa Allah mengabarkan kepada Rasulullah bahwa usianya tak lagi lama, yakni tak lama setelah penaklukan Kota Mekah.”
Mendengar jawaban itu, Umar mengatakan, “Jawabanku tentang tafsiran ayat itu juga sama dengan jawaban anak ini.”
Para ulama mencatat, sekitar 1.660 hadis diriwayatkan melalui Abdullah bin Abbas. Ia merupakan sahabat kelima terbanyak yang meriwayatkan hadis: di bawah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum.
**
Ada nasihat menarik dari Imam Malik rahimahullah: ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi. Artinya, harus ada upaya sungguh-sungguh untuk mencari ilmu.
Sayangnya, di akhir zaman seperti saat ini, tak banyak orang yang merasa perlu untuk meraih banyak ilmu agama. Padahal, inilah bekal hidup kita yang sementara.
Mulai sekarang, berapa pun usia kita, bagaimana pun kesibukan kita; bersungguh-sungguhlah menuntut ilmu agama. Dengan begitu, Allah akan menerangi hati kita. [Mh]





