DUA belas Rabiul Awal memiliki makna luar biasa dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: lahir, hijrah, dan wafat.
Ada tiga momen yang begitu bermakna dalam sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketiganya terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Tiga momen itu adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal, tiba hijrah di Madinah pada 12 Rabiul Awal, dan wafat juga pada 12 Rabiul Awal.
Kelahiran beliau di sebuah tempat yang menjadi pusat rujukan jazirah arab. Karena di situlah peradaban jazirah arab bermula. Di situ pula, ada bangunan suci yang menjadi pusat kiblat dunia: Ka’bah.
Namun, di situ pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan hadangan yang hebat dalam dakwahnya. Dakwah yang disebut sebagai periode Makiyah, atau fase sebelum hijrah.
Hijrah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan periode berikutnya dari dakwah Nabi: periode Madaniyah. Sebuah periode yang memiliki warna kelanjutan dari yang sebelumnya.
Di fase itulah Al-Qur’an berbicara tentang ahlul kitab, tentang munafik, tentang hukum syariah, tentang politik, tentang pertahanan, tentang ekonomi, dan tentu saja tentang keluarga.
Dua periode itu merampungkan sebuah bangunan Islam yang Allah sajikan melalui sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun begitu, sosok beliau yang super sibuk itu tidak meluputkan beliau dalam bahasan persaudaraan sesama muslim. Dalam bahasan tentang kelembutan dan cinta seorang suami dan ayah.
Islam tegak saat itu bukan dari bangunan konsep teoritis yang jelimet. Melainkan, dari sebuah dinamika yang hidup, melekat sebagai kebutuhan antar umat manusia.
Pada akhir masa kenabian, Rasulullah dan umat Islam saat itu berkumpul dalam sebuah momen perpisahan besar: Haji Wada’. Saat itulah, seolah Islam Allah proklamirkan sebagai agama ‘resmi’ untuk umat manusia akhir zaman. Tak ada agama yang diakui, selain Islam.
Hanya sekitar dua bulan setelah momen perpisahan besar itu, Rasulullah sakit. Selama kurang lebih 13 atau 14 hari, Rasulullah seperti dalam suasana perpisahan yang sebenarnya.
Benar saja. Pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun ke-11 Hijriyah, di hari yang sama dengan saat kelahiran beliau: Senin, Allah subhanahu wata’ala mewafatkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
**
Tak ada harta dunia yang Rasulullah wariskan untuk keluarga dan umatnya. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan dua hal yang jauh lebih bernilai dunia dan isinya. Yaitu, Al-Qur’an dan Sunnah.
Selama kita berpegang teguh dengan dua itu, selama itu pula kita tak akan tersesat dalam jalan hidup ini.
Meskipun, begitu banyak pihak yang menginginkan umat ini salah jalan. Siang malam, mereka melakukan tipu daya. Sekian banyak harta yang telah mereka keluarkan.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga untuk keluarga dan para sahabatnya. [Mh]



