NEGARA itu bukan benda mati yang bisa diolah seenaknya. Negara merupakan amanah dari banyak orang.
Ada yang menarik dari kisah Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan istri beliau: Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.
Saat itu, pemerintahan Khalifah Umar sudah ekspansi ke wilayah-wilayah Bizantium, seperti wilayah Syam. Sejumlah penaklukan terhadap wilayah itu pun sudah terjadi. Antara lain, wilayah Al-Quds yang saat ini sebagai Palestina.
Namun begitu, Khalifah Umar tetap menjaga diplomasi yang baik antara kedua pemimpin pemerintahan: Khalifah Umar dan Kaisar Heraclius. Surat-menyurat antara keduanya juga beberapa kali dilakukan. Yaitu, berkenaan dengan urusan perbatasan wilayah, gencatan senjata, dan lainnya.
Namun, di sisi para istri ternyata juga melakukan hal yang sama. Yaitu, terjalinnya hubungan surat-menyurat antara Ummu Kultsum dengan Martina: istri dari Kaisar Heraclius.
Suatu kali, Ummu Kultsum mengirimkan sejumlah hadiah kepada Martina. Antara lain berupa makanan khas dan minyak wangi untuk wanita. Hal ini disambut antusias oleh istri Kaisar itu.
Ia membahas hal itu bersama para penasihatnya. Disampaikan bahwa hal itu merupakan hadiah dari istri Raja Arab. Para penasihat pun menyarankan agar Martina membalas hadiah dari istri Raja Arab itu.
Akhirnya, sebuah hadiah istimewa tiba di Madinah dari Bizantium. Yaitu, berupa kalung mewah yang diberikan secara pribadi dari Martina untuk Ummu Kultsum.
Mendapati laporan itu, Khalifah Umar terkejut. Ia seperti tidak menyadari kalau surat-menyurat yang ia lakukan dengan Kaisar Heraclius juga dilakukan oleh istrinya terhadap istri Kaisar.
Khalifah Umar marah. Ia pun menyita kalung mewah itu. Umar menegaskan bahwa kalung itu merupakan aset negara dan dimasukkan dalam pencatatan Baitul Maal. Sementara, hadiah yang pernah diberikan Ummu Kultsum ke istri kaisar akhirnya digantikan.
Inilah salah satu bentuk kehati-hatian Khalifah Umar terhadap aset negara. Meskipun, hadiah itu diberikan secara pribadi oleh istri kaisar untuk istrinya.
**
Orang yang amanah itu menilai bahwa semua yang ia dapatkan dari jabatannya adalah aset negara, kecuali gaji yang sudah jelas tercatat. Dari mana pun datangnya aset itu: hubungan pribadi antar pejabat, hadiah, dan sejenisnya.
Menjaga amanah jabatan itu memang berat. Dan lebih berat lagi menjaga ‘godaan-godaan’ di sekitar jabatan: hadiah, ucapan terima kasih, dan lainnya. [Mh]


