ILMU itu khazanah yang sangat bernilai. Tapi jika belum memahami, katakan saja: aku tidak tahu.
Ada sebuah anekdot tentang orang yang dikira sangat berilmu. Tentu, bukan kejadian yang sebenarnya.
Di sebuah musholah, ada seorang bapak yang mampir sejenak untuk shalat Zuhur dan istirahat. Ia tidak tahu kalau di musholah itu akan dilangsungkan shalat jenazah.
Setelah shalat Zuhur dan berzikir, ia melihat beberapa orang menghampirinya. Sejenak orang-orang itu seperti sedang menilai penampilannya: wajahnya kearab-araban, mengenakan kemeja putih, dan berkopiah.
“Maaf, Pak. Apa bisa menolong kami?” ucap salah seorang dari mereka setelah mengajak bersalaman.
Bapak itu agak bingung. “Menolong seperti apa, ya?” sahutnya.
Orang-orang itu menceritakan kalau mereka akan melakukan shalat jenazah. Tapi, sudah ditunggu agak lama, imam yang sudah disiapkan ternyata tak bisa hadir.
“Apa Bapak bisa mengimami shalat jenazah keluarga kami?” tanya orang itu akhirnya.
Bapak yang wajahnya kearab-araban itu sebenarnya bingung mau jawab apa. Pasalnya, ia sama sekali belum pernah shalat jenazah. Jangankan mengimami, ikut shalat jenazah saja belum pernah.
“Tolong, ya Pak! Kami mohon,” ucap orang itu sekali lagi.
Akhirnya si bapak itu bersedia. Ia pikir, apa sih susahnya mengimami shalat. Kan, ia sudah biasa mengimami shalat di rumah. Ia pun mulai mengimami shalat jenazah.
Sepanjang pelaksanaan shalat, hampir semua ma’mum bingung. Pasalnya, di shalat itu, ada ruku’, i’tidal, sujud, dan gerakan lain yang biasa dalam shalat. Tapi, mereka sungkan ‘menegur’. Dan, shalat pun usai.
Seseorang dari posisi belakang buka suara, “Maaf, Pak. Kok shalat jenazahnya pakai ruku’ dan sujud segala?”
Bapak itu awalnya agak bingung mau jawab apa. Saat itu, ia baru ingat kalau pernah mendengar bahwa shalat jenazah itu berbeda dengan shalat biasa.
Tapi karena gengsi, ia pun mengatakan, “Bukan apa-apa. Saya pakai ruku dan sujud segala, supaya dosa dan kesalahan almarhum benar-benar bisa terhapus semuanya.”
Dan, orang-orang di situ pun mengangguk, tapi tetap masih bingung.
**
Kejadian seperti di atas mungkin saja bisa terjadi. Intinya, seseorang yang sebenarnya tidak memahami sesuatu, tapi memaksakan diri seolah tahu. Mungkin karena gengsi, atau lainnya.
Seorang sekaliber Imam Malik rahimahullah saja beberapa kali mengatakan ‘saya tidak tahu’ kepada seseorang yang mengajukan sejumlah pertanyaan tentang agama. Meski orang yang bertanya itu merasa heran, tapi tetap saja, Imam Malik jujur mengatakan bahwa ia tidak tahu.
Jadi, jangan merasa malu apalagi gengsi jika memang tidak tahu atau tidak bisa. Katakan dengan jujur: saya tidak tahu atau saya belum bisa.
Jangan pernah pedulikan orang sekitar akan bilang apa tentang kita. [Mh]



