ADA yang menarik di Mekah pada Jumat, 7 Agustus lalu. Tiga negara: Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani kesepakatan ‘Pakta Mekah’ (Mecca Joint Defence Agreement). Mau melawan siapa?
Dunia, khususnya Timur Tengah dikejutkan dengan lahirnya Pakta Mekah. Yaitu, sebuah aliansi militer tiga negara. Salah satu isinya, jika salah satu negara diserang, negara lainnya ikut memberikan bantuan militer.
Pakta pertahanan bersama ini bisa dibilang mirip dengan NATO. Tapi, kenapa hanya bertiga dan kenapa lahir setelah AS merasa kewalahan melawan Iran di Timteng?
Dibentuk Setelah AS Loyo Melawan Iran
Tidak bisa dipungkiri bahwa Pakta Mekah ini dibentuk di saat AS kewalahan melawan Iran di kawasan Timteng termasuk Saudi. Bisa dibilang, pertahanan AS di Yordania adalah yang terakhir dan terbesar yang hancur diserang Iran.
Kini, militer yang mengaku paling digjaya itu ‘kabur’ ke Israel dan wilayah Eropa seperti di Cyprus dan sekitarnya.
Pertanyaannya, apakah Pakta ini dimaksudkan sebagai pengganti militer AS yang tak lagi digjaya?
Tentu saja, tiga negara itu menolak kalau Pakta ini dimaksudkan untuk melawan Iran dan sekutunya, termasuk Houthi.
Apakah dimaksudkan untuk bersiap menghadapi serangan Israel? Rasanya tidak juga. Karena selama ini, hubungan antara Saudi dengan Israel baik-baik saja. Bahkan, beberapa tahun lalu (2023), hampir saja Saudi dan Israel menjalin hubungan diplomatik, kalau saja tidak karena ‘gebrakan’ Hamas yang memporak-porandakan rencana itu.
Begitu pun rasanya dengan Turki dan Pakistan. Turki masih menjadi anggota NATO bersama AS yang merupakan bentuk ‘maxi’ dari Israel. Sementara Pakistan, memiliki hubungan intelijen yang bersahabat dengan Israel.
Tidak heran jika ketiganya tergabung dalam BoP bentukan Trump untuk melindungi kepentingan AS dan Israel di tanah Palestina.
Aramco Diserang Houthi
Di luar dugaan, Houthi berhasil meluncurkan drone dan rudal ke arah kilang minyak Aramco, 26 Juli lalu. Ledakan besar pun terjadi.
Serangan ini berulang lagi pada 8 Agustus, atau sehari setelah penandatanganan Pakta Mekah berlangsung. Kobaran api menguapkan sebagian cadangan minyak di kilang minyak terbesar di dunia itu, setelah Iran dan Venezuela.
Apa Pakta Mekah ini ada kaitannya dengan rawannya keamanan Aramco setelah AS ‘ciut’ menghadapi Iran? Rasanya, itu bisa saja terjadi.
Sebagai tambahan, Aramco merupakan singkatan dari Arabian American Oil Company. Perusahaan itu merupakan peleburan dari beberapa perusahaan minyak AS yang mengebor kawasan timur Saudi itu sejak tahun 1933.
Sejumlah perusahaan minyak AS yang tergabung dalam Aramco antara lain Standard Oil, Texaco, dan Exxon. Tapi kabarnya, pemerintah Saudi telah mengambil alih seluruh saham perusahaan itu sejak tahun 1980.
Pakta Pertahanan ‘Islam’ yang Meragukan Publik
Rasanya, terlalu jauh kalau mengaitkan Pakta Mekah dengan sepak terjang Israel dan AS yang kian ganas di Timteng.
Kesimpulan ini bisa dilihat dari sejak tahun 2023. Tepatnya sejak konflik terbuka antara Hamas dan Israel.
Saat itu, Israel dan AS menghancurkan seluruh kekuatan yang ada di Hamas dan Lebanon. Hampir satu kota Gaza hancur tak berbentuk. Puluhan bahkan ratusan ribu nyawa warganya melayang, termasuk wanita dan anak-anak.
Pertanyaannya, apakah saat itu ada semacam Pakta Mekah? Jangankan wujudnya, isunya saja nyaris tak terdengar.
Bahkan, publik dikejutkan dengan tiga negara ini bergabung dalam BoP, sebuah lembaga ‘perdamaian’ bentukan Trump yang lebih cenderung melindungi kepentingan Israel daripada Palestina.
Rasanya, masih terlalu jauh jika mengaitkan Pakta Mekah ini dengan perlawanan terhadap Israel untuk kemerdekaan Palestina. Jangan-jangan, justru disiapkan untuk menghadapi Iran yang tak lagi mampu dilawan AS dan Israel. [Mh]


