REBOOT artinya mematikan dan menghidupkan kembali sistem. Tujuannya untuk menyegarkan memori. Bagaimana jika itu dilakukan terhadap hati?
Dalam Musnad Imam Ahmad rahimahullah, disebutkan tentang pengalaman seorang sahabat Nabi bernama Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma.
Di sebuah majelis bersama Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Akan datang calon penghuni surga.” Tak lama, datangnya seorang laki-laki dengan wajah bekas wudhu dan tangannya memegang sandal.
Begitu terjadi hingga tiga kali di hari yang berbeda. Hal ini sangat membuat Abdullah penasaran. Gerangan amal apa yang menjadikan orang itu begitu istimewa.
Perlu diketahui, Abdullah bin Amru bin Ash merupakan sahabat yang masih belia. Tapi, beliau begitu tekun dan rajin dalam ibadah: qiyamul lail, tilawah, dan lainnya.
Abdullah meminta izin ke orang itu untuk bermalam. Ia ingin sekali melihat keadaan ibadah sunnahnya di saat malam hari.
Tapi, yang ditemukan Abdullah, tak ada ibadah yang istimewa. Biasa saja. Tapi, ia masih penasaran dan meminta izin ke tuan rumah untuk bermalam hingga tiga kali.
Lagi-lagi, semuanya nihil. Tak ada yang terlihat istimewa dari ibadah orang itu. Akhirnya, Abdullah menanyakan langsung dan menceritakan apa yang ia pernah diucapkan Rasulullah hingga tiga kali terhadapnya.
Orang itu tampak bingung. Ia merasa tak ada amalan yang istimewa. Tapi, ada satu hal yang selalu jaga.
“Apa itu?” begitu kira-kira penasaran Abdullah.
“Saya selalu menjaga hati saya untuk bersih dari segala hasad dan dengki terhadap saudara-saudara muslim,” ucapnya.
Abdullah pun terkejut. “Inilah amalan istimewa yang sulit bisa dilakukan banyak orang!” seperti itu kira-kira yang direspon Abdullah.
**
Setiap orang selalu ingin hidup bahagia. Tapi, mereka tak bisa menemukan cara bagaimana meraih bahagia itu. Harta, jabatan, kekuasaan, dan lainnya bukan cara meraih bahagia. Yang terjadi bisa sebaliknya.
Cara bahagia itu sangat sederhana. Yaitu, membersihkan hati dari segala hasad dan dengki, terhadap siapa pun.
Kalau ada orang yang menghina atau merendahkan, kita bisa membina hati kita dengan mengatakan, “Apa yang diketahui orang yang menghina saya itu hanya segelintir keburukan saya. Yang tidak ia tahu jauh lebih banyak.” Dan, kita pun menjadi lega.
Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan, tanpa membanding-bandingkan dengan yang orang lain terima; kita akan merasa sebagai orang yang paling beruntung. Itulah bahagia kita. [Mh]



