LISAN adalah salah satu bagian tubuh yang terlihat sederhana, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Dari lisan, seseorang bisa menyampaikan kasih sayang, memberikan nasihat, menghibur orang lain, bahkan mengajak kepada kebaikan. Namun, dari lisan pula dapat muncul perkataan yang menyakiti hati, menimbulkan permusuhan, hingga merusak hubungan yang sudah terjalin lama.
Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap cara seseorang berbicara. Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim memilih perkataan dengan sebaik-baiknya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam.
Baca Juga: Ketika Harapan kepada Allah Membuat Kita Terus Bergerak
Belajar Menjaga Lisan: Ketika Diam Lebih Baik daripada Salah Bicara
Pesan tersebut menunjukkan bahwa diam bukan berarti seseorang tidak memiliki sesuatu untuk disampaikan. Diam justru dapat menjadi pilihan ketika perkataan yang akan keluar tidak membawa manfaat. Sebelum berbicara, seseorang perlu mempertimbangkan apakah ucapannya akan memberikan kebaikan atau justru menimbulkan masalah baru.
Perkataan yang baik dapat menjadi bentuk sedekah. Kalimat sederhana seperti ucapan terima kasih, memberikan semangat kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, mengingatkan dengan cara yang lembut, atau mendoakan orang lain bisa memberikan dampak yang besar. Tidak jarang, seseorang yang sedang terpuruk hanya membutuhkan beberapa kalimat positif agar kembali memiliki kekuatan.
Sebaliknya, perkataan buruk dapat membawa dampak yang panjang. Ghibah, fitnah, ejekan, penghinaan, dan ucapan yang merendahkan orang lain bukan hanya melukai perasaan, tetapi juga dapat merusak persaudaraan. Hubungan antara teman, pasangan, saudara, bahkan keluarga bisa menjadi renggang hanya karena perkataan yang disampaikan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Lisan juga sering menjadi ujian ketika seseorang sedang marah. Dalam kondisi emosi, manusia cenderung lebih mudah mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikatakan. Setelah suasana hati mereda, penyesalan mungkin datang, tetapi perkataan yang sudah keluar tidak selalu bisa ditarik kembali.
Karena itu, membiasakan diri berhenti sejenak sebelum berbicara merupakan salah satu bentuk pengendalian diri. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar, apakah perlu disampaikan, dan apakah cara menyampaikannya dapat menyakiti orang lain?
Bukan berarti kita harus selalu diam. Berbicara untuk menyampaikan kebenaran, memberikan nasihat, berdakwah, menyelesaikan persoalan, dan menebarkan kebaikan justru merupakan sesuatu yang bernilai. Yang perlu dijaga adalah cara, tujuan, serta dampak dari perkataan tersebut.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, menjaga lisan merupakan bagian dari menjaga hati dan akhlak. Semakin seseorang berhati-hati dengan ucapannya, semakin kecil kemungkinan ia menyakiti orang lain. Maka, sebelum satu kalimat keluar dari mulut, pikirkan terlebih dahulu manfaat dan akibatnya. Jika mampu menghadirkan kebaikan, sampaikan dengan lembut. Namun jika hanya akan menimbulkan luka dan masalah, diam bisa menjadi pilihan yang jauh lebih bijaksana. [DW]





