KELUARGA dan dakwah tak bisa dipisahkan. Karena, sebelum dakwah ke orang lain, keluarga harus menjadi objek yang utama.
Ada kisah menarik tentang kalung putri Rasulullah: Sayyidah Zainab radhiyallahu ‘anha. Kalung itu merupakan hadiah khusus pernikahan Zainab dari ibunda: Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha.
Kalung itu begitu spesial. Hanya Sayyidah Khadijah dan suaminya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memahami betapa itu merupakan tanda cinta yang mulia.
Zainab menikah dengan seorang pria yang merupakan keponakan dari Sayyidah Khadijah. Namanya Abul Asha bin Rabi. Selain keponakan, Abul Ash juga menurunkan bakat yang sama dengan bibinya, yaitu berdagang.
Zainab begitu mencintai Abul Ash, dan begitu pun sebaliknya. Keduanya seperti dua sejoli yang begitu romantis dan harmonis.
Kalung itu diberikan ibundanya karena seperti mengingatkan kenangan indah antara cinta ayah ibunya: Rasulullah dan Sayyidah Khadijah. Beruntungnya Zainab sebagai anak pertama yang menikah dari keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika Rasulullah menjadi Nabi dan Rasul di usia 40, keadaan itu menjadi berubah. Hal itu karena sang menantu: Abul Ash, merasa keberatan untuk masuk Islam. Tapi, ia tetap menjaga penghormatan kepada ayah dan ibu mertuanya yang masih paman dan bibinya.
Saat itu, belum ada syariat yang melarang beda agama. Maka, jadilah Zainab yang muslimah yang bersuamikan Abul Ash yang tetap kafir.
Setelah peristiwa hijrah, Zainab tidak bisa ikut ayahandanya berhijrah ke Madinah karena suaminya keberatan. Keduanya masih tetap tinggal di Mekah.
Perang pertama pun terjadi antara umat Islam dengan kafir Quraisy. Yaitu, pada Perang Badar. Sayangnya, menantu Rasulullah: Abul Ash menjadi tawanan umat Islam.
Zainab yang sangat menginginkan suaminya dibebaskan, mengirimkan sebuah benda berharga sebagai alat tebusan. Benda berharga itu adalah kalung hadiah ibundanya saat pernikahan lalu. Saat itu, Zainab sudah punya seorang putri yang masih kecil: Umamah.
Kalung itu pun diterima pasukan Islam di Madinah. Kalung ditukar dengan Abul Ash.
Kalung itu diperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat kalung itu, Nabi tak bisa berkata apa-apa. Ingatannya melayang jauh kepada sosok istri tercinta: Sayyidah Khadijah. Saat itu juga, Rasulullah menangis.
Para sahabat bersepakat untuk melepaskan Abul Ash, begitu pun dengan kalung penuh kenangan untuk dikembalikan kepada Zainab. Tapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta agar Abul Ash mengizinkan Zainab dan putrinya: Umamah, untuk hijrah ke Madinah.
Abul Ash pun setuju. Ia pun kembali ke Mekah. Setibanya di Mekah, kalung itu dikembalikan ke Zainab. Awalnya Zainab bingung. Tapi setelah memahami bahwa tebusan yang sebenarnya adalah izin dari Abul Ash untuk membiarkan Zainab hijrah menemui Rasulullah. Karena hal itu haknya sebagai seorang muslimah.
Zainab pun berpisah dengan suami yang ia cintai itu. Ditemani oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu yang juga sebagai anak angkat Rasulullah, Zainab bersama putrinya berangkat hijrah ke Madinah. Sementara, suaminya tetap tinggal di Mekah karena masih belum mau masuk Islam.
Selang beberapa tahun dengan berbagai lika-liku jalan sulit, akhirnya Allah kembali mempertemukan jodoh dua sejoli itu. Pada tahun ke-6 hijriyah, Abul Ash akhirnya masuk Islam dan hijrah ke Madinah. Betapa bahagianya Zainab dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
**
Ujian dalam jalan dakwah itu tak semudah yang dibayangkan. Justru, ujian terberatnya datang dari dalam keluarga sendiri. Bisa datang dari suami, istri, anak, mertua, atau menantu.
Lakoni ujian itu dengan penuh kesabaran dan tawakal. Kadang, solusinya hanya soal waktu. [Mh]


