SEDEKAH merupakan salah satu amal istimewa. Jangan tunda-tunda. Sedekahlah selagi bisa.
Ada seorang sahabat Rasulullah bernama Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa ada sekelompok sahabat dari kalangan dhuafa yang ingin bisa mendapat pahala sedekah seperti yang kaya.
Abu Dzar merupakan di antara sahabat Nabi yang berasal dari kalangan dhuafa. Mereka tinggal di ‘emperan’ Masjid Nabawi. Tempat tinggal mereka terbuat dari tenda-tenda.
“Ya Rasulullah, betapa banyak pahala orang-orang kaya di antara kami. Kami shalat, mereka juga shalat. Kami puasa, mereka pun puasa. Tapi, mereka bisa bersedekah, sementara kami tak bisa sedekah,” ucap mereka.
Akhirnya Rasulullah menjelaskan bahwa Allah menjadikan ‘banyak pintu’ untuk meraih pahala sedekah. “Sesungguhnya, tasbih itu sedekah, takbir itu sedekah, tahmid juga sedekah, tahlil sedekah, amru bil ma’ruf sedekah, nahyu ‘anil munkar juga sedekah. Bahkan, hubungan suami istri di antara kalian juga sedekah,” jelas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain, Nabi juga menjelaskan bahwa menyingkirkan ‘gangguan’ dari jalan juga bernilai sedekah.
**
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kalangan dhuafa pun bisa meraih pahala sedekah, sebanyak pahala yang diraih orang-orang kaya. Bukan dari uang yang tak sanggup mereka keluarkan, tapi dari hal baik yang bisa dilakukan.
Namun begitu, bagi yang mampu jangan menggantikan pahala sedekah mereka dengan hanya melakukan amal baik itu dan tidak mengeluarkan uang mereka.
Allah menganugerahkan kekhususan ini sebagai bentuk Keadilan dan Kasih Sayang-Nya.
Jangan tunda-tunda sedekah selagi bisa. Karena tak seorang pun dari kita yang tahu kapan kesempatan bisa sedekah itu berakhir. [Mh]


