DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai begitu banyak alasan untuk membenci seseorang. Perbedaan pendapat, kesalahan kecil, rasa iri, atau sekadar prasangka buruk dapat membuat hati dipenuhi kebencian. Padahal, Islam mengajarkan hal yang sebaliknya. Seorang Muslim diperintahkan untuk menumbuhkan kasih sayang, bukan memperbesar permusuhan.
Ada sebuah hadis Rasulullah SAW yang sangat masyhur untuk menjadi bahan renungan:
“Tidak beriman salah satu dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Begini Cara Tepat Memberikan Stimulasi agar Tumbuh Kembang Anak Berjalan Optimal
Alasan di Balik Harus Penuhi Hati dengan Cinta dan Bukan dengan Kebencian
Hadis ini bukan sekadar anjuran untuk berbuat baik, tetapi menjadi ukuran kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang mukmin yang baik adalah mereka yang mampu menghadirkan cinta, kepedulian, dan kebaikan kepada orang lain sebagaimana ia menginginkan semua itu untuk dirinya sendiri.
Jika direnungkan, setiap orang tentu ingin dihormati, diperlakukan dengan lembut, dimaafkan ketika melakukan kesalahan, dan dibantu ketika sedang mengalami kesulitan. Maka, sudah sepatutnya kita juga memberikan perlakuan yang sama kepada orang lain. Inilah makna mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri.
Sayangnya, hati manusia sering kali lebih mudah mengingat keburukan orang lain daripada melihat kebaikannya. Kesalahan kecil bisa terus dikenang bertahun-tahun, sementara berbagai kebaikan yang pernah dilakukan seolah terlupakan. Akibatnya, rasa benci tumbuh, hubungan menjadi renggang, dan persaudaraan perlahan rusak.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Padahal kebencian lebih banyak merugikan diri sendiri. Hati menjadi gelisah, pikiran dipenuhi prasangka, dan hidup terasa tidak tenang. Sebaliknya, ketika seseorang belajar memaafkan dan menumbuhkan kasih sayang, ia akan merasakan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Tentu mencintai sesama bukan berarti membenarkan setiap kesalahan yang dilakukan orang lain. Islam tetap mengajarkan untuk menegakkan kebenaran dan menolak kemungkaran. Namun semua itu dilakukan dengan adab, hikmah, dan niat mengharap ridha Allah, bukan karena dorongan hawa nafsu atau kebencian pribadi.
Karena itulah, Ustadz Muhammad Assad mengingatkan agar kita memohon pertolongan kepada Allah supaya hati dipenuhi dengan cinta dan kebaikan. Hati manusia berada dalam genggaman Allah SWT. Sebesar apa pun usaha seseorang memperbaiki dirinya, tanpa pertolongan Allah, sangat sulit menjaga hati agar tetap bersih dari iri, dengki, dan kebencian.
Doa yang beliau tuliskan juga sangat indah untuk diamalkan:
“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mencintai karena-Mu, membenci karena-Mu, memberi karena-Mu, dan menahan amarah hanya karena-Mu.”
Doa ini mengajarkan bahwa seluruh perasaan dan tindakan seorang Muslim hendaknya dilandasi keikhlasan kepada Allah. Kita mencintai bukan karena kepentingan pribadi, melainkan karena Allah mencintai orang-orang yang beriman. Kita menahan amarah bukan karena lemah, tetapi karena ingin memperoleh pahala dari-Nya.
Di zaman ketika media sosial sering menjadi tempat saling mencela dan menjatuhkan, pesan ini terasa semakin relevan. Kita membutuhkan lebih banyak kasih sayang daripada kebencian, lebih banyak doa daripada celaan, dan lebih banyak saling menguatkan daripada saling menyalahkan.
Marilah mulai dari hal-hal sederhana. Biasakan mendoakan saudara kita, memaafkan kesalahannya, membantu ketika ia membutuhkan, dan ikut berbahagia saat ia memperoleh nikmat. Dengan begitu, hati akan semakin bersih dan iman pun semakin bertumbuh. [DW]
Sumber: Instagram Ustadz Muhammad Assad




