BAHAGIA itu dicari banyak orang. Tapi, tak banyak orang yang bisa menemukannya.
Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, ada sebuah komunitas umat Islam yang unik. Namanya Ahlus Suffah.
Ahlus Suffah adalah sekelompok umat Islam pendatang atau muhajirin yang tinggal di ‘emperan’ bagian belakang Masjid Nabawi. Mereka tinggal beratapkan tenda-tenda seadanya.
Mereka tinggal di situ karena tak memiliki rumah di Madinah. Juga, tak memiliki harta yang cukup untuk bisa hidup layak seperti warga umumnya: penduduk asli maupun pendatang lainnya.
Biasanya, mereka makan dan minum seadanya. Donator utama kehidupan mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika Rasul sedang memiliki banyak makanan, mereka pun akan banyak makanan dan menikmatinya bersama Rasulullah.
Suatu hari, Rasulullah menerima hadiah dari seseorang berupa satu bejana susu. Rasulullah memanggil satu penghuni Ahlus Suffah, yaitu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah meminta Abu Hurairah untuk mengumpulkan seluruh penghuni Ahlus Suffah. Mereka akan sama-sama menikmati susu.
Susunan duduk pun sudah diatur sedemikian rupa agar semuanya bisa menerima susu.
Rasulullah bersama Abu Hurairah menyediakan segelas susu untuk setiap orang. Dan syukurnya, semuanya kebagian. Kecuali, Rasulullah dan Abu Hurairah sendiri.
Rasulullah pun meniriskan sisa-sisa susu yang masih tersisa di bagian bawah bejana. Setelah dikumpulkan bagian sisa itu, masih cukup untuk satu gelas.
Bqagian satu gelas itu pun dituangkan ke dua gelas: satu gelas untuk Rasulullah dan satunya lagi untuk Abu Hurairah. Keduanya pun meminum jatah susu itu.
Abu Hurairah memberikan kesaksian, jatah yang seadanya itu ternyata bisa mengenyangkan perutnya dan membahagiakan hatinya.
**
Kebahagiaan itu bukan pada saat kita menerima banyak. Karena semakin besar kesenjangan antara kelebihan yang kita punya dengan yang diperlukan, semakin kecil rasa syukur kita. Segalanya menjadi terasa ‘biasa’ saja. Tidak istimewa.
Tapi ketika yang tersedia dengan yang kita perlukan mencukupi, maka di situlah rasa istimewanya.
Tidak heran jika ada orang bijak mengatakan, lauk makan yang paling ‘enak’ adalah rasa lapar. Ketika ada rasa lapar, makanan selalu terasa enak.
Berbagi adalah cara agar yang tersedia dengan yang diperlukan bisa pada titik yang cocok. Saat itu, bahagia akan menjadi jauh istimewa karena bisa menyebarkan rasa bahagia ke orang lain.
Jika ingin selalu bahagia, kikis habis rasa kikir kita. Siapa selalu menyayangi yang di bumi, maka akan selalu disayangi oleh yang di langit. [Mh]


