KEMISKINAN itu dekat dengan kekufuran. Jangan jauhi miskinnya, tapi hindari kekufurannya.
Banyak orang soleh yang membangun kemandirian untuk mereka yang mantan napi. Mereka diberikan keterampilan agar bisa hidup mandiri. Selain tentunya, pemahaman tentang agama.
Ada seorang tukang las yang diminta untuk melatih para mantan napi. Sebut saja tukang las itu bernama Agus.
Awalnya, ia tidak mengira apa keterampilannya yang biasa saja itu bisa bermanfaat untuk mantan napi. Hal ini karena siapa pun bisa menjadi tukang las tanpa harus sekolah tinggi.
Selain itu, murid-murid yang akan ia ajarkan bukan orang ‘sembarangan’. Tapi, mantan pelaku kriminal. Apa mungkin ia bisa mengajarkan mereka?
Akhirnya Agus mau membantu. Awalnya, ia agak canggung. Tapi, setelah terbiasa dengan suasana keakraban mereka, canggung itu pun hilang dengan sendirinya.
Waktu pun terus bergulir. Tanpa Agus sadari, ia sudah begitu lama mengajarkan banyak orang. Dan syukurnya, para mantan Napi itu pun sudah bisa membuka usaha las sendiri.
Agus memang tidak mengajarkan siswa di sekolah tinggi. Tidak juga mengajarkan agama seperti di pesantren. Tapi, ia menyadari bahwa para mantan napi sangat membutuhkan keterampilan kerja. Dan dari situ pula, mereka tetap bisa mandiri.
Kata kuncinya sederhana: boleh jadi, kefakiran itu lebih dekat kepada kekufuran. Dan, mereka yang punya keterampilan usaha bisa selamat dari jeratan kefakiran.
**
Kefakiran atau miskin itu tidak selalu materi. Ada juga miskin dalam bentuk jiwa. Miskin ini bisa hinggap pada orang kaya. Jangan heran jika banyak orang kaya yang tega mencuri uang negara.
Untuk mereka yang memang fakir dalam arti sebenarnya, solusi yang mereka terima harus berkelanjutan. Artinya, jangan melulu bantu mereka dengan ‘ikan’, tapi juga dalam bentuk kailnya.
Yang sangat dibutuhkan mereka yang jatuh fakir dan miskin itu bukan sekadar pembekalan kekayaan jiwa. Melainkan juga keterampilan usaha.
Bantulah saudara kita yang sedang kesusahan. Karena kefakiran bisa menjerumuskan mereka kepada kekufuran. [Mh]


