DAMAI Iran-AS sudah di depan mata. Rencananya, Jumat ini (19/6), kedua pihak akan menandatanganinya di Swiss. Pertanyaannya: kenapa AS tiba-tiba melunak dan acuh dengan sikap Israel yang kecewa?
Kesepakatan damai Iran-AS kian jelas. Rencananya, kedua pihak akan menandatangani MoU di Swiss pada Jumat ini (19/6). Menariknya, justru pihak AS yang tampak mempromosikan kesepakatan ini ke seluruh dunia.
AS mengaku Kalah?
Secara hitung-hitungan politik dan ekonomi, perang yang berlangsung sejak akhir Februari ini menyimpulkan bahwa AS pada posisi rugi besar.
Secara politik, AS menjadi negara yang ‘jatuh pamor’ di mata dunia. Khususnya di Timur Tengah. Hal ini terlihat dari ketidakmampuan AS menandingi serangan militer Iran. Bahkan hanya untuk menangkis serangan pun AS begitu kewalahan.
Padahal, negara-negara teluk seperti Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Oman sepertinya sudah membayar ‘uang keamanan’ secara rutin kepada AS. Hal itu terlihat dari pangkalan militer AS yang bercokol di negeri-negeri teluk.
Secara politik pula, dalam negeri AS sudah tidak lagi percaya dengan kepemimpinan Trump. Hal itu terlihat dari sikap Kongres dan demo-demo besar yang dilakukan oleh warga AS agar Trump menyetop perang.
Secara hitungan ekonomi, lebih parah lagi. Sekiranya Israel memberikan ‘modal’ agar AS ikut terlibat perang, rasanya ‘modal’ itu sudah jauh dari impas alias tekor jauh. Kalau ini diteruskan, AS akan bangkrut.
Kalah Terhormat
Sejak awal, AS sebenarnya tidak berkepentingan dalam perang dengan Iran. Justru, kalkulasinya sangat merugikan. AS ikut perang bersama Israel lebih karena ‘ketidakberdayaan’ Trump terhadap ajakan Netanyahu.
Dengan kata lain, perang dengan Iran murni sebagai agenda Israel. Bukan AS. Hal ini karena Iran dianggap satu-satunya kekuatan yang bisa menjadi ancaman program penjajahan Israel di Timur Tengah.
Karena sudah tekor banyak, akhirnya AS memilih untuk kalah secara terhormat dari Iran. Caranya sederhana: adanya kesepakatan damai demi kebaikan ekonomi dunia.
Momen ini tentu tidak akan disia-siakan Iran. Iran tentu akan meminta ‘banyak’ kepada AS jika ingin damai. Inilah dugaan kenapa kesepakatan damai menjadi begitu alot.
Dari bocoran yang diterima media massa dunia, tersiar kabar sejumlah poin kesepakatan. Dari sejumlah poin ini, begitu terlihat posisi Iran yang diuntungkan.
Antara lain, AS wajib membayar ganti rugi sebesar 300 miliar dolar, mencabut embargo ekonomi terhadap Iran, dan mencairkan aset Iran yang pernah dibekukan.
Tapi dari hitung-hitungan bisnis Trump, tampaknya tuntutan ini masih dianggap lebih baik daripada perang terus berlanjut. Terutama karena terhentinya ‘ATM-ATM’ jumbo AS di selat Hormus yang diperoleh dari negara-negara teluk.
Pecah Kongsi AS-Israel
Inilah bedanya jika seorang presiden yang berlatar belakang pebisnis seperti Trump. Ia akan mengabaikan sementara komitmen ideologi apa pun demi ‘kantongnya’ tidak terkuras habis.
Sikap Trump yang mengabaikan Israel menunjukkan bahwa Trump lebih mementingkan kalkulasi bisnis daripada ideologi yang mungkin disepakati dengan Israel.
Hal inilah yang selama ini disuarakan para petinggi militer AS. Bahwa, tidak ada untungnya AS membela mati-matian Israel.
Bagaimana jika Israel secara sepihak menyerang lagi Lebanon dan Gaza yang berarti mencederai kesepakatan damai?
Pada kesepakatan sebelumnya, April lalu, Trump masih terlihat ambigu. Di satu sisi ia ingin terjadi kesepakatan damai, di sisi lain ia harus mengikuti agenda Israel.
Namun kali ini, pernyataan-pernyataan Trump di G7 baru-baru ini menunjukkan sinyal bahwa AS akan ‘masa bodo’ dengan agenda Israel. Artinya, jika nantinya Iran membalas serangan ke Israel, AS akan mengabaikannya. Dan kesepakatan damai tetap berlanjut.
Di sisi lain, Trump rasanya sudah menyadari risiko atas sikapnya itu terhadap Israel. Mungkin, ia sudah pasrah jika jabatannya saat ini akan dicopot oleh jaringan Israel di AS.
Yang penting, bisnis keluarganya tidak ikut ambruk dan citra sebagai presiden yang cinta damai bisa ia peroleh. Toh, negaranya memang menginginkan damai itu. [Mh]


