BAGI jamaah haji maupun umrah yang pertama kali mengunjungi Makkah dan Madinah, salah satu pemandangan yang sering menarik perhatian adalah banyaknya burung merpati yang beterbangan di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Burung-burung ini tampak hidup berdampingan dengan manusia, bahkan tidak jarang terlihat berkumpul dalam jumlah besar di pelataran masjid. Lalu, mengapa burung merpati begitu banyak ditemukan di dua kota suci tersebut?
Salah satu penyebab utamanya adalah faktor lingkungan yang mendukung. Makkah dan Madinah memiliki area terbuka yang luas di sekitar masjid-masjid utama.
Pelataran yang bersih, banyaknya tempat berteduh, serta ketersediaan sumber makanan dari aktivitas manusia membuat burung merpati merasa nyaman untuk tinggal dan berkembang biak.
Selain itu, masyarakat setempat dan para jamaah umumnya tidak mengganggu keberadaan burung-burung tersebut. Bahkan banyak orang yang memberikan makanan berupa biji-bijian. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang relatif aman sehingga populasi merpati dapat bertahan dari generasi ke generasi.
Ada pula cerita populer yang sering beredar di kalangan umat Islam bahwa merpati di sekitar Makkah merupakan keturunan burung yang membantu melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dalam kisah tersebut disebutkan bahwa seekor merpati membuat sarang di depan Gua Tsur sehingga kaum Quraisy mengira tidak ada orang yang bersembunyi di dalamnya.
Namun, para ulama dan sejarawan menjelaskan bahwa riwayat tentang merpati dan laba-laba di Gua Tsur memiliki perbedaan pendapat mengenai tingkat keabsahannya. Oleh karena itu, kisah tersebut tidak dapat dijadikan alasan ilmiah mengapa merpati banyak terdapat di Makkah saat ini. Meski demikian, cerita itu tetap menjadi bagian dari tradisi yang dikenal luas oleh sebagian umat Islam.
Baca Juga: Menganggap Ibadah Hanya Sebagai Rutinitas, Apa Dampaknya?
Mengapa Burung Merpati Banyak Ditemui di Makkah dan Madinah?
Alasan lain yang lebih kuat adalah adanya penghormatan terhadap kehidupan hewan di Tanah Haram. Dalam syariat Islam, kawasan Haram Makkah memiliki aturan khusus yang melarang perburuan hewan liar di wilayah tertentu. Larangan ini membuat berbagai jenis burung, termasuk merpati, memiliki tingkat perlindungan yang lebih tinggi dibandingkan di banyak tempat lain.
Madinah juga memiliki keistimewaan serupa. Rasulullah menetapkan kawasan haram di Madinah yang memiliki aturan tertentu terkait pelestarian lingkungan. Nilai-nilai ini secara tidak langsung membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan memungkinkan burung-burung hidup dengan aman.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Keberadaan merpati di dua kota suci tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah. Banyak peziarah yang menikmati suasana tenang saat melihat burung-burung beterbangan di sekitar masjid. Bahkan bagi sebagian orang, pemandangan tersebut menghadirkan kesan damai yang menambah kekhusyukan selama beribadah.
Meskipun demikian, pihak pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tetap melakukan pengawasan terhadap populasi burung agar tidak menimbulkan gangguan kebersihan maupun kesehatan lingkungan. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kelestarian satwa dan kenyamanan para jamaah.
Pada akhirnya, banyaknya burung merpati di Makkah dan Madinah bukanlah sebuah kebetulan. Faktor keamanan, perlindungan terhadap hewan, lingkungan yang mendukung, serta budaya masyarakat yang menghormati makhluk hidup menjadikan kedua kota suci ini sebagai tempat yang nyaman bagi burung merpati untuk hidup dan berkembang. [DW]





