WANITA tidak selalu identik dengan lemah dan lembut. Ada yang lebih kuat, cerdas, dan berani dari umumnya.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabiyah yang lain dari yang lain. Ia begitu berani, cerdas, dan kuat dari umumnya muslimah saat itu.
Namanya Asma binti Yazid Al-Aslam. Asma tak merasa minder ketika berada di antara para sahabat dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bukan itu saja, ia juga mampu mengartikulasi apa yang ingin disampaikan dengan begitu baik. Sehingga Rasulullah begitu dibuat kagum dengan kemampuannya itu.
Suatu hari, Asma binti Yazid mengutarakan keadaan isi hatinya yang merupakan perwakilan dari muslimah umumnya saat itu. Rasulullah dan para sahabat menyimak apa yang ia sampaikan.
“Ya Rasulullah, bukankah Anda Nabi untuk umatmu yang pria dan wanita. Tanpa ada perbedaan.
“Ya Rasulullah, kenapa hanya pria yang boleh shalat Jumat, shalat berjamaah di masjid, menengok jenazah, dan berjihad fi sabilah.
“Kenapa tidak demikian halnya dengan wanita. Kami hanya di rumah, mengurus anak-anak, dan melayani para suami.
Seperti kira-kira yang diutarakan Asma binti Yazid dengan begitu sempurna. Rasulullah dan para sahabat yang ada di forum itu pun terperangah. Ia bicara dengan begitu berani, lugas, dan cerdas.
Rasulullah pun memuji asma. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang pernah bertemu dengan wanita seperti Asma ini?”
“Tidak pernah, Ya Rasulullah,” jawab para sahabat kompak.
Rasulullah menjelaskan kepada Asma bahwa kepatuhan muslimah kepada suami dan semua yang mereka lakukan selama ini, pahalanya sama dengan semua amal yang dilakukan para pria yang disebutkan itu.
“Pulanglah, sampaikan apa yang kau dengar dariku tadi kepada saudari-saudarimu,” ucap Rasulullah kepada Asma.
Asma pun menyambut jawaban Rasulullah itu dengan begitu antusias. “Laa ilaaha illallah. Allahu Akbar!!!” ucapnya seiring langkahnya keluar majelis.
Sosok Asma memang secara alami sudah seperti wakil para muslimah untuk menyampaikan aspirasi mereka ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia seperti jembatan penghubung antara para muslimah dengan Rasulullah.
Kadang Asma mengadakan konsultasi langsung dengan Rasulullah. Kadang pula, dengan melalui majelis terbuka seperti itu.
Keberaniannya bukan sekadar di forum terbuka, menyampaikan aspirasi kaum wanita, dan lainnya; bahkan dalam jihad pun Asma ikut berperang melawan musuh.
Dalam Perang Yarmuk, antara umat Islam di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melawan pasukan Romawi, Asma juga ikut sebagai pasukan lapangan. Dalam momen itu, ia sempat membunuh sekitar 9 prajurit Romawi.
Para ulama hadis seperti Abu Daud dan lainnya mengambil riwayat hadis dari Asma binti Yazid. Sekitar 81 hadis yang diriwayatkan melalui Asma.
**
Muslimah itu anggun, lembut, pendidik, dan ‘penghias’ keindahan rumah tangga. Tapi, perannya juga bisa menyamai kaum pria. Bahkan bisa lebih dari itu.
Tak ada alasan untuk wanita tak bisa berkiprah lebih dari biasanya. Islam membuka peluang untuk itu. [Mh]





