AWAL kebinasaan Bani Israil ini menjadi pengingat bagi kita. Jangan sampai penyebab kebinasaan kaum tersebut terulang kembali di zaman sekarang. Oleh sebab itu, harus berhati-hati terhadap hal ini.
Baca Juga:ย Bani Israil Pernah Dibangkitkan dari Kematian
Awal Kebinasaan Bani Israil
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ุฅู ุงูุฏููุง ุญููุฉู ุฎุถุฑุฉู . ูุฅู ุงูููู ู ุณุชุฎููููู ูููุง . ูููุธุฑู ููู ุชุนู ููู . ูุงุชููุง ุงูุฏููุง ูุงุชููุง ุงููุณุงุกู . ูุฅู ุฃููู ูุชูุฉู ุจูู ุฅุณุฑุงุฆููู ูุงูุช ูู ุงููุณุงุกู
โSesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (disana).
Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Israโil adalah cobaan wanita.โ (HR Muslim no. 2742).
Dari Abu Sa’id Al Khudri atau Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ุฅููู ุฃููููู ู ุง ููู ุจูู ุฅุณุฑุงุฆููู ุฃููู ุงู ุฑุฃุฉู ุงููููุฑู ูุงูุช ุชูููููููู ู ู ุงูุซูููุงุจู ุฃู ุงูุตููููุบู ุฃู ูุงู : ู ู ุงูุตูููุบุฉู ู ุง ุชููููููู ุงู ุฑุฃุฉู ุงูุบูููู ุ ูุฐูุฑ ุงู ุฑุฃุฉู ู ู ุจูู ุฅุณุฑุงุฆููู ูุงูุช ูุตูุฑุฉู ุ ูุงุชููุฎุฐุช ุฑูุฌููููู ู ู ุฎุดุจู ุ ูุฎุงุชู ูุง ูู ุบููู ูุทุจููุ ูุญุดุชู ู ูุณููุง ุ ูุฎุฑุฌุช ุจูู ุงู ุฑุฃุชูููู ุทููููุชูููู ุฃู ุฌุณูู ุชูููู ุ ูุจุนุซูุง ุฅูุณุงููุง ูุชุจุนููู ุ ูุนุฑู ุงูุทููููุชูููู ููู ูุนุฑููู ุตุงุญุจุฉู ุงูุฑููุฌููููู ู ู ุงูุฎุดุจู
“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Isra’il adalah tatkala ada seorang wanita fakir membebani dirinya dalam perkara pakaian atau perkara penampilan.”
Atau Nabi bersabda: “Wanita fakir membebani dirinya dalam perkara penampilan, ingin berpenampilan seperti para wanita kaya.”
Beliau shallallahu โalaihi wasallam lalu menyebutkan, “Sampai ada seorang wanita Bani Israil yang pendek, kemudian ia membuat dua buah alas kaki dari kayu (agar terlihat tinggi).
Dan ia memakai cincin yang mempunyai penutup, kemudian cincin tersebut diisi dengan minyak wangi misik.
Ia lalu keluar rumah dan berjalan di antara dua wanita yang tinggi.
Sampai ada seseorang yang disuruh untuk mengikuti tiga wanita tersebut, sehingga kemudian orang ini bisa mengenali dua orang wanita yang tinggi, tetapi ia tidak mengenali siapa wanita yang menggunakan alas kaki kayu tersebut.”
(HR. Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid [hal. 208], dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.591. Ashl hadits ini ada dalam Shahih Muslim no. 2252).
Dalam riwayat Imam Ahmad (3/46) :
ููุงูุช ุฅุฐุง ู ุฑุช ุจุงูู ุฌูุณ ุญุฑูุชู ูููุญ ุฑูุญู
“Wanita tersebut ketika melewati sekumpulan orang, ia menggerakkan tangannya sehingga terciumlah wangi dari misiknya.”
Pelajaran dari hadits ini, dijelaskan oleh Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits ini sedang memberikan wasiat berharga dengan mengabarkan perkara yang menjadi sebab kebinasaan Bani Israil, sehingga kita menjauhinya. Di antaranya adalah:
1. Orang-orang kaya rela mengeluarkan harta yang banyak hanya untuk perkara penampilan, pakaian, perhiasan, dan makanan.
2. Para wanita yang fakir memaksakan dirinya untuk berpenampilan seperti wanita kaya
3. Para suami terbebani oleh istrinya yang menuntut banyak harta untuk urusan penampilan.
Sampai-sampai ia bekerja pontang-panting siang dan malam, berhutang riba, menjual rumah dan tanah, dan minta-minta kesana kemari.
4. Habisnya banyak harta dan waktu untuk urusan penampilan. Agar terlihat menarik dan menjadi perhatian orang-orang.
5. Para wanita rela bersusah-susah untuk memiliki penampilan menarik. Seperti wanita yang membuat alas kaki dari kayu agar ia terlihat tinggi, tentunya membuat dan memakai alas kaki seperti ini sangat sulit, tapi ia rela melakukannya.
6. Para wanita membuat dirinya menjadi fitnah (godaan) yang besar bagi para lelaki dan mereka (para wanita) bersemangat untuk berpenampilan menarik di depan laki-laki.
7. Besarnya fitnah (godaan) wanita
Diringkas dari kitab Shahih al Qashash an Nabawi, karya Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar, hal. 364 – 365.
Wallahu a’lam. [Cms]
@fawaid_kangaswad





