ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Jumat, 07 Agustus 2020 | 18 Zulhijjah 1441 H
Login
Register

 


 
 
 
 
KHAZANAH

Syarat Menjadi Ibu: Cinta dan Pengorbanan

11 July 2020 12:46:50
Birul Walidain, Ibu, Bayi
Ilustrasi, foto: MySalaam

ChanelMuslim.com- Semua ibu adalah wanita. Tapi, tidak semua wanita akan menjadi ibu. Karena untuk menjadi seorang ibu tidak cukup hanya sebagai wanita. Melainkan juga ketulusan cinta dan pengorbanan.

Dua syarat ini, cinta dan pengorbanan, pasti akan dilalui seorang ibu. Cinta adalah fase di mana seorang wanita menjadi istri. Dalam bahasa Alquran disebut dengan mawaddah dan rahmah. Mawaddah merupakan wujud cinta karena dorongan biologis. Dan rahmah, cinta yang diliputi oleh seribu satu rasa khusus yang tidak dimiliki wanita lain.

Mawaddah boleh jadi dirasakan sama. Karena syahwat merupakan anugerah Allah yang bisa dirasakan semua wanita. Tapi, cakupannya hanya sebatas fisik dan sekitarnya.

Sementara rahmah, merupakan akumulasi dari berbagai variabel rasa yang dimiliki wanita dan sosok suaminya. Variabel tersebut antara lain, lingkungan cinta sang wanita saat menjadi puteri sebuah keluarga, pengalaman rasa yang memberikannya akselerasi tingkat kedewasaan jiwa, dan yang lebih penting, hubungan harmonis antara dirinya dengan Yang Maha Mencinta.

Inilah akumulasi cinta yang akan menjadi dasar tegaknya cinta lain yang sangat luar biasa: cinta seorang ibu. Sebuah cinta yang tidak didasari pemberian apa pun. Bahkan bisa dikatakan, sebuah titipan cinta khusus untuk seorang ibu dari cinta Allah swt. untuk umat manusia.

Syarat setelah cinta adalah pengorbanan. Tak seorang pun seorang ibu yang bisa menjadi ibu sebenarnya tanpa melalui ini. Sebuah pengorbanan dahsyat yang bukan sekadar mempertaruhkan materi. Tapi, nyawa.

Sebelum menjadi ibu, sunnatullah melatih seorang ibu untuk merasakan pahit getirnya sebuah kehamilan. Alquran menyebutnya dengan istilah ‘wahnan ‘ala wahnin’: sebuah beban yang bukan makin lama makin ringan. Tapi, kian bertambah berat seiring waktu.

Jika seorang suami ingin merasakan apa arti wahnan ‘ala wahnin, silakan ia mengikat tabung gas melon selama kurang lebih 9 bulan. Tanpa dilepas sedikit pun. Di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun. Kalau itu bisa dilakukan, barulah suami bisa memahami istilah itu. Tapi bisa dijamin, jangankan 9 bulan, 9 jam pun tak ada yang kuat dengan kondisi yang selalu menempel sebagaimana layaknya sebuah kehamilan.

Inilah pengorbanan fase satu. Ada pengorbanan fase dua yang tidak malah berkurang, tapi justru mencapai puncaknya. Yaitu, sebuah kelahiran bayi yang beratnya bisa mencapai 5 kilogram dengan panjang lebih dari setengah meter.

Pengorbanan di fase ini sedemikian beratnya, sehingga sunnatullah mengindentikkan fase ini dengan darah. Mau dengan cara apa pun, kelahiran tidak bisa terjadi tanpa darah. Kalau khitan anak laki-laki, dengan teknologi tertentu, bisa dilakukan tanpa darah. Tapi, kelahiran harus selalu dengan darah. Allahu Akbar.

Setelah fase satu dan dua, pengorbanan memasuki fase tiga. Yaitu, ketulusan seorang ibu untuk menyusui buah hatinya. Ibu harus selalu siap menyediakan asinya kapan pun dan bagaimana pun jika sang bayi meminta. Menariknya, sang ibu tidak pernah merasa diminta, melainkan berusaha untuk selalu bisa memberi.

Itulah dua syarat yang harus dilalui seorang ibu: cinta dan tiga fase pengorbanan. Siapa pun akan melaluinya. Meskipun seorang wanita paling mulia di muka bumi ini, Maryam binti Imran.

Ia memang tidak pernah merasakan cinta dari seorang suami. Tapi, cintanya kepada Allah swt., meski pun dengan dimensi yang berbeda, melampaui cinta wanita mana pun terhadap Allah swt. Sang ibu sudah menazarkan keberadaan Maryam untuk mengabdi kepada Allah swt. Tak ada cinta lain yang melebihi cintanya kepada Allah swt.

Namun, untuk syarat pengorbanan, wanita selevel Maryam pun harus melalui itu. Bahkan, pengorbanannya bertambah satu, tidak seperti wanita umumnya yang hanya tiga. Pengorbanan itu adalah, takut dan malu karena dihujani fitnah yang luar biasa. Fitnah yang menjadikannya terusir dari keluarga besar dan kampung halaman. Dan fitnah, yang hingga kini terus berlangsung hingga akhir zaman. Sebuah fitnah akidah yang berakibat fatal.

Sedemikian spesialnya posisi ibu di sisi Allah swt., Allah menitipkan sifat Rahim-Nya kepada ibu dalam sebuah wadah yang juga dinamakan rahim. Dan dari kemuliaan rahim ini pula, syariat mengikatkan manusia dalam ikatan rahim yang membuat hubungan menjadi haram dan wajib. Haram untuk melangsungkan pernikahan, dan wajib untuk saling berkasih sayang: jiwa dan materi.

Wahai wanita, bersyukurlah Anda. Dalam tahapan hidupmu terdapat sebuah gelar yang paling mulia di muka bumi ini: ibu. Sebuah gelar yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun, kecuali ridha Allah dan surgaNya. (Mh)

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
TOPIK :
birul walidain
ibu
bayi
 
BERITA LAINNYA
 
 
KHAZANAH
21 June 2018 12:02:09

Pakaian Bulan Syawal itu Bernama Takwa

 
KHAZANAH
02 April 2019 17:08:31

Lidah Arab Fasih

 
KHAZANAH
01 March 2020 21:26:10

My Body is Mine

 
KHAZANAH
05 March 2020 10:52:20

Menyandingkan Nama Suami di Belakang Nama Istri

 
KHAZANAH
10 June 2020 18:32:10

Berapa Hari dalam Hidup Kita

Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
 
 
TERBARU
 
 
 
TERPOPULER
 
 
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga