LIMA pemuda Global Sumud Flotilla (GSF) bertemu dengan puluhan pemimpin komunitas, organisasi mahasiswa, NGO, jurnalis, akademisi, hingga pegiat lingkungan dalam forum tertutup Youth Sumud Gathering. Acara yang difasilitasi oleh SMART 171 dan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) ini berlangsung di Bandung Creative Hub Rabu pagi hingga sore (21/10). Forum ini jadi ruang berbagi pengalaman mereka yang sudah jalani misi laut menuju Gaza, sekaligus menghasilkan diskusi strategis untuk memperkuat kolaborasi gerakan solidaritas Palestina di Indonesia.
Kelima aktivis tersebut ialah Simone, Lisi, Obaida, Şuayb, serta Felix. Kelimanya punya peran berbeda di GSF dan membagikan pengalaman mengenai aksi gabungan sipil terbesar sedunia itu.
Baca Juga: Berjibaku hingga Dini Hari, Tim DMC Dompet Dhuafa Padamkan Titik Api di Ogan Ilir
Aktivis Muda GSF dan Puluhan Komunitas Indonesia Susun Strategi Bersama untuk Palestina

Forum ini dihadiri sekitar 40 peserta yang mewakili berbagai elemen gerakan di Indonesia, di antaranya akademisi, Komandan Julid Fii Sabilillah Erlangga Greschinov, Ketua BDS Movement Indonesia Syauqi Hafiz, Greenpeace Indonesia, WALHI, Komnas Palestina, Aliansi Pemuda Indonesia (API), Student Justice for Palestine (SJP), Badan Eksekutif Mahasiswa dari sejumlah kampus, ketua UKM agama Islam maupun katolik, dan Baik Berisik perwakilan berbagai daerah.
Dalam sesi berbagi pengalaman, para pemuda GSF menjelaskan awal mula terhubung dengan isu palestina, lantas bergabung di GSF. Misi mereka menembus blokade Gaza untuk antarkan makanan dan obat-obatan. Pada dasarnya mereka juga membangun tekanan sipil internasional agar Israel buka blokade Gaza.
Simone menjelaskan bahwa setiap pelayaran melibatkan koordinasi yang sangat kompleks, mulai dari logistik, bantuan untuk Gaza, keamanan, diplomasi, hingga komunikasi dengan berbagai negara.
Lisi mengkoordinasi ratusan manusia dengan ide-ide brilian, banyak konflik tentu, tapi itu tak meruntuhkan semangat mereka semua untuk mencapai tujuan yang sama. Ia berkisah bagaimana mengelola ratusan relawan dari berbagai latar belakang membutuhkan kepercayaan, disiplin, dan visi kemanusiaan yang sama.
Di sisi lain, Suayb memaparkan pentingnya infrastruktur komunikasi dalam misi laut. Koneksi internet satelit menjadi salah satu aspek vital agar kapal tetap dapat berkomunikasi dengan dunia ketika berada di tengah laut maupun saat menghadapi situasi darurat.
Obaida, yang asli Palestina, menceritakan bagaimana sejak kecil ia sudah mengerti tentang kondisi keluarga. Israel mengusir keluarga mereka kala Nakba 1948. Ia sudah berkali-kali ikut pelayaran ke Gaza, dan tak akan mau berhenti.
Felix yang merupakan kapten kapal, menceritakan bagaimana ia sudah mengenal kapal sejak dulu. Ia punya skill yang diperlukan GSF dan tak mau melewatkan kesempatan ini. Tentu keluarganya melarang, tapi ia tetap maju. Kejutan, ibunya kemudian menjadi penghubung bagi seluruh keluarga dari delegasi Prancis dan memberikan dukungan yang sangat besar untuknya.
Mereka tak berada di kapal yang sama sehingga punya pengalaman berbeda. Semuanya menceritakan pengalaman di kapal dan apa yang terjadi setelah Israel membajak kapal dan menculik mereka.
Kemudian, seluruh peserta dibagi ke dalam kelompok diskusi. Selama beberapa jam, peserta merumuskan berbagai gagasan kolaborasi lintas organisasi, mulai dari penguatan kampanye publik, edukasi berbasis kampus dan komunitas, advokasi kebijakan, hingga strategi memperluas gerakan solidaritas Palestina di Indonesia.
Steering Committee GSF, Dr. Maimon Herawati, menyampaikan bahwa tantangan perjuangan Palestina hari ini tidak dapat dijawab oleh satu organisasi saja. “Kita gak hidup selamanya, kita perlu anak muda. Dan gak bisa hanya satu dua organisasi pemuda. Karenanya, akademisi, media, organisasi mahasiswa, komunitas, pegiat lingkungan, influencer, hingga NGO harus saling melengkapi. Forum seperti ini menjadi ruang untuk menyatukan kekuatan agar dampaknya lebih besar,” ujarnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pertemuan berlangsung secara tertutup karena berfokus pada penyusunan rencana kerja dan koordinasi lintas organisasi. Meski demikian, forum tersebut menjadi salah satu momentum penting yang mempertemukan berbagai aktor gerakan solidaritas Palestina dari dalam dan luar negeri dalam satu ruang kolaborasi, dengan harapan lahir langkah-langkah konkret yang dapat memperkuat dukungan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. [DW]




