MADINAH Al-Munawwarah artinya kota yang bercahaya atau tercerahkan. Bercahaya setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menetap di sana.
Dahulunya Madinah bernama Yatsrib. Masyarakatnya hidup sebagai petani, peternak, dan lainnya. Ada juga komunitas Yahudi di sana.
Dahulunya juga, Madinah yang terdiri dari dua suku besar: Aus dan Khazraj kerap saling bermusuhan satu sama lain. Sering terjadi peperangan.
Namun setelah Nabi dan kaum muhajirin menetap, segalanya berubah total. Profesi warganya menjadi beragam, persatuan terjalin baik, Madinah menjadi terkenal di dunia, dan yang penting: komunitas Yahudi dan munafik tersingkir.
Di awal-awal hijrah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatukan semua suku yang ada, termasuk penyatuan muhajirin dan anshar. Nabi juga membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan.
Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana Engkau menjadikan kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih.” (HR. Bukhari)
Para sahabat Nabi menyaksikan terjadi perubahan fundamental di Kota Madinah. Tidak heran jika Madinah disebut Al-Munawwarah, yang bercahaya atau yang tercerahkan.
**
Kita bisa melihat benda-benda bukan sekadar karena mata. Melainkan juga karena adanya cahaya. Begitu pun dengan lingkungan tempat kita hidup saat ini, di mana pun itu.
Bukan cahaya dalam arti fisik, tapi cahaya Islam yang menerangi hati dan jiwa kita semua.
Bagaimana pun minimnya keadaan tempat tinggal dan negara kita, selama hati dan jiwa warganya tercahayakan dengan Islam, maka segalanya menjadi damai.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka. (QS. Ar-Ra’d: 11) [Mh]


