DI TENGAH hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut kita untuk selalu bergerak cepat, tak jarang kita berada di satu titik kejenuhan. Ada momen ketika seluruh ikhtiar telah dicurahkan, segala rencana telah disusun dengan matang, namun jalan keluar yang dicari tak kunjung tampak. Pikiran terus dipenuhi oleh tumpukan pertanyaan yang membingungkan, sementara di dalam dada, hati diam-diam telah sangat kelelahan. Rasa cemas itu kerap datang saat memikirkan masa depan keluarga, beban amanah pekerjaan yang semakin menumpuk, hingga ketakutan akan hari esok yang belum tentu berjalan sesuai dengan ekspetasi kita.
Dalam kondisi mental dan spiritual yang penuh ketidakpastian tersebut, firman Allah SWT dalam Surah Ash-Shaffat ayat 99 menghadirkan sebuah penawar dan ketenangan yang luar biasa. Ayat tersebut mengabadikan perkataan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku akan pergi (menghadap) kepada Tuhanku. Dia akan memberiku petunjuk.’” (QS. Ash-Shaffat: 99)
Ungkapan yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ini mengandung pelajaran tauhid dan kepasrahan mendalam. Kalimat tersebut tidak hanya sekadar kata-kata indah dalam sejarah, melainkan sebuah seruan bagi setiap manusia untuk belajar percaya sepenuhnya kepada Allah SWT di tengah ketidaktahuan kita.
Baca Juga: Muslimah Wajib Tahu Ini Adab Berwudhu yang Perlu Diperhatikan
Pernahkah Kamu Merasa Lelah Mengejar Dunia tapi Lupa Tempat Kembali?
Belajar Pasrah Tanpa Menghentikan Langkah
Sering kali rasa cemas muncul karena kita menuntut diri sendiri untuk mengetahui seluruh jawaban dan akhir dari setiap masalah saat ini juga. Padahal, sebagai hamba yang memiliki keterbatasan, kita memang tidak dirancang untuk mampu melihat masa depan. Tugas utama kita bukanlah memikul beban takdir sendirian, melainkan terus berusaha secara optimal sembari menggantungkan harapan hanya kepada-Nya.
Dalam perjalanan hidup ini, ada hal-hal yang memang perlu kita ikhtiarkan dengan penuh kesungguhan, ada keputusan-keputusan sulit yang harus ditimbang dengan matang, namun pada akhirnya ada hasil akhir yang wajib kita pasrahkan sepenuhnya kepada ketetapan Allah SWT. Menyerahkan hasil bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan sebuah bentuk kematangan iman bahwa takdir-Nya selalu jauh lebih baik dari rencana terbaik manusia.
Refleksi Diri: Kemana Hati Ini Berlabuh?
Momentum seperti hari Jum’at yang penuh keberkahan memberikan ruang ideal bagi kita untuk melupakan sejenak kesibukan duniawi dan mengajukan pertanyaan mendasar kepada diri sendiri: Selama sepekan terakhir mengejar begitu banyak urusan dunia, sudahkah kita memberikan waktu yang cukup bagi hati untuk benar-benar mendekat kepada Allah?
Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk mencari solusi dari manusia, mengandalkan logika dan kemampuan diri sendiri, namun lupa untuk memohon petunjuk dari Sang Maha Pemilik Solusi. Barangkali, kegelisahan yang menyelimuti dada selama ini adalah sinyal dari jiwa bahwa kita perlu memperlambat ritme, kembali tenang dalam shalat, dan hadir sepenuhnya saat menghadap Sang Pencipta.
Kita perlu belajar untuk lebih jujur di hadapan Allah saat menengadahkan tangan dalam doa. Tidak ada salahnya mengakui di hadapan-Nya bahwa kita sedang sangat lelah, bahwa pikiran kita sedang bingung, dan bahwa tanpa pertolongan serta kasih sayang-Nya, kita bukanlah siapa-siapa. Mengakui kelemahan diri di hadapan Allah adalah bentuk penghambaan yang paling tulus sekaligus awal dari datangnya kekuatan baru.
Ketenangan di Tengah Ujian
Mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak serta-merta membuat seluruh persoalan hidup sirna dalam sekejap mata. Masalah mungkin masih ada, beban mungkin belum sepenuhnya terangkat. Namun, perbedaan besarnya terletak pada kondisi hati yang menjalankannya.
Melalui doa yang dipanjatkan secara istiqamah dan ketaatan yang terus dijaga, Allah akan mengaruniakan lapang dada. Kita belajar menghadapi setiap badai kehidupan dengan ketenangan, menjaga lidah dan pikiran agar tetap berprasangka baik, serta terus melangkah mencari jalan keluar yang paling diridhai oleh-Nya.
Kita sangat boleh jika hari ini belum mengetahui bagaimana babak akhir dari ujian hidup yang sedang dialami. Namun satu hal yang pasti: hari ini kita selalu memiliki kesempatan untuk memilih melangkah lebih dekat kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa barangsiapa yang melangkah mendekat kepada-Nya, niscaya Allah akan menyambutnya dengan pertolongan yang tidak disangka-sangka.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Doa dan Harapan
Mari kita tutup renungan ini dengan memohon keteguhan hati kepada Sang Pemilik Jiwa:
Ya Allah, tuntunlah kami dalam setiap helai napas dan langkah kaki kami. Saat keinginan dan amandemen duniawi kami begitu kuat, jernihkanlah hati kami agar mampu menerima dan melihat petunjuk-Mu dengan terang. Bimbinglah kami untuk senantiasa memilih apa yang Engkau ridhai, lalu kuatkanlah fisik dan mental kami untuk menjalankannya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti





