TAUBAT merupakan pintu menuju cahaya Islam. Itulah anugerah Allah yang teramat mahal.
Ada seorang tabi’in bernama Malik bin Dinar rahimahullah. Ia hidup di masa Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah dan juga mengalami hidup dengan sahabat Nabi: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Kiprah dakwahnya begitu hebat. Ia meriwayatkan 40 hadis yang menjadi bagian dari hadis Imam Bukhari dan Imam An-Nasai. Derajat hadis dari Malik bin Dinar bernilai hasan atau baik.
Malik bin Dinar juga hijrah ke India untuk melakukan dakwah di sana. Di bumi tempat ia berdakwah itu pula salah seorang ahli hikmah ini dimakamkan, tahun 748 masehi.
Malik bin Dinar Mantan Preman
Di masa mudanya, Malik bin Dinar hidup dalam lingkungan yang buruk. Dan, ia pun larut dalam perilaku yang buruk: minuman khamar, berzina, dan lainnya.
Ia lahir dari keluarga kaya. Ayahnya pejabat istana kekhalifahan Umayyah. Malik bin Dinar kerap mengikuti ayahnya dan tinggal di istana. Saat itu, kekhalifahan Umayyah dalam masa kehancuran karena tenggelam dalam kemewahan.
Ia kerap membawa ‘koleksi’ minuman keras ke rumahnya. Putrinya yang masih balita kerap melarangnya menyentuh botol minuman. Malik tidak marah. Ia begitu sayang dengan putrinya itu.
Titik balik hidupnya terjadi setelah putrinya yang sangat ia sayang itu wafat. Ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Namun begitu, kebiasaan buruknya dengan minuman keras tak juga berubah. Hingga suatu kali, ia bermimpi buruk dan mendapatkan nasihat dari putrinya.
Ketika terbangun, ia menangis sejadi-jadinya. Ia pun bertaubat. Semua botol minuman ia buang. Sejak itu, hidupnya tak lagi di istana.
Ia mengejar ketertinggalan ruhaninya dengan belajar kepada Imam Hasan Al-Bashri dan sempat bertemu dan menimba ilmu dari sahabat Rasulullah yang terakhir wafat: Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Ia berusaha mencari pekerjaan yang halal. Termasuk, sebagai penyalin mushaf Al-Qur’an melalui tangannya sendiri.
Malik bin Dinar memang tidak mewariskan kitab. Tapi, perjalanan spiritualnya begitu sarat dengan nasihat yang penuh hikmah. Ia wafat di usia sekitar 85 tahun.
**
Siapa pun bisa berubah menjadi baik. Seburuk apa pun perilakunya, dan sebejad apa pun karakternya.
Karena itu, jangan merasa terlambat untuk bertaubat. Dan, jangan gampang menilai orang buruk sebagai vonis akhir tentang dirinya.
Allah yang membolak-balikkan hati seseorang. Selalulah berdoa agar Allah subhanahu wata’ala mengokohkan iman dan Islam kita. Hingga akhir hayat kita. [Mh]


