HOBI dimiliki semua orang. Ada yang hobinya traveling, memancing, hiking, kuliner, dan lainnya. Rasanya, tak ada yang mengeluh capek saat asyik di hobi.
Pernah melihat pendaki gunung? Mereka membawa ransel besar yang penuh barang. Berjalan jauh dan mendaki dengan jalan yang tak beraspal.
Hujan kehujanan, panas kepanasan. Tak ada tempat untuk berteduh dan taka da ranjang untuk bermalam. Kecuali, sebuah tenda dengan alas tidur seadanya.
Apa mereka tak capek? Jawabannya, sangat capek. Bahkan juga berbahaya. Tapi, tak seorang pun dari mereka kapok dan mengeluh. Mereka senang melakoni itu tanpa pamrih.
**
Pernah melihat orang memancing? Mungkin, sebagian kita terheran-heran. Kok, mau sih berpanas-panasan, berhujan-hujanan hanya untuk mendapatkan ikan. Padahal, mereka bukan orang miskin yang tak mampu membeli ikan.
Apa mereka tidak capek? Jawabannya tentu sangat capek. Dan sebagian lainnya juga harus membayar ke pengelola.
Seharian penuh mereka lakoni itu. Kadang, tak terasa kalau perut sangat lapar.
**
Umumnya generasi usia empat puluhan ke atas mungkin akan heran dengan anak-anak muda yang hobi main game. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan ada yang hingga berganti hari.
Bagi yang punya banyak uang, bukan sekadar waktu yang rela mereka korbankan. Uang untuk membeli kelengkapan aksesoris game pun rela mereka korbankan. Berapa pun besarnya.
Apa mereka tak capek? Jawabannya sangat capek. Tapi, mereka menikmati itu.
**
Kalau keadaannya diubah, hal yang sama juga dirasakan oleh para sahabat Nabi dan tentu Nabi sendiri. Begitu pun para ulama yang hidup berabad-abad setelah Nabi wafat.
Mereka bisa shalat sunnah semalam suntuk. Mereka lakukan di ruangan seadanya. Tanpa karpet indah dan ruangan yang berpendingin udara.
Apa mereka tidak capek? Jawabannya sama dengan yang hobi hiking, main game, memancing, traveling, dan lainnya: sangat capek!
Tapi, kok mau dan bisa ya bertahan sekuat itu? Jawabannya sangat sederhana: hobi!
Istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah, radhiyallahu ‘anha pernah menanyakan itu kepada suaminya shallallahu ‘alaihi wasallam: limaadza tashna’u hadza ya Rasulullah? Kenapa Anda lakukan ini ya Rasulullah? Manakala Sayyidah Aisyah mendapati kaki Rasulullah bengkak-bengkak karena lama berdiri dalam shalat.
Jawaban Nabi singkat: afalaa uhibbu an akuuna ‘abdan syakuura. Apakah aku tak boleh ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur.
**
Andai kita menyalurkan hobi sejalan dengan apa yang Allah cintai. Nikmat hidayah itu memang mahal. Tak banyak orang yang bisa menikmatinya. [Mh]


