PARAGONCORP memperluas perjalanan risetnya dengan mengembangkan penelitian berbasis multi-omics.
Proses penuaan dan perubahan kondisi kulit tidak berlangsung dengan cara yang sama pada setiap orang.
Pada sebagian orang, tanda penuaan mungkin lebih terlihat melalui munculnya garis halus, sementara pada yang lain perubahan warna kulit, pigmentasi, sensitivitas, kekeringan, atau menurunnya fungsi pelindung kulit justru menjadi perhatian utama.
Perbedaan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh usia. Faktor genetik, karakteristik biologis, paparan sinar matahari, iklim tropis, polusi, pola makan, gaya hidup, hingga lingkungan saling berinteraksi membentuk kondisi kulit setiap individu.
Karena itu, pengetahuan mengenai kulit yang diperoleh dari satu kelompok masyarakat belum tentu dapat sepenuhnya menggambarkan karakteristik masyarakat lainnya.
Indonesia sendiri memiliki konteks yang unik. Masyarakat hidup di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari, tingkat kelembapan, dan temperatur yang berbeda dibandingkan banyak negara lain.
ParagonCorp Perkuat Riset Multi-Omics untuk Hadirkan Inovasi yang Semakin Relevan
Di saat yang sama, keberagaman latar biologis, etnis, lingkungan, serta kebiasaan masyarakat Indonesia turut membentuk karakteristik kulit yang sangat beragam.
Kondisi tersebut menghadirkan kebutuhan akan riset yang mampu memahami kulit masyarakat Indonesia secara lebih komprehensif.
Berangkat dari keyakinan tersebut, ParagonCorp memperluas perjalanan risetnya melalui kolaborasi bersama Corpora Science dengan mengembangkan penelitian berbasis multi-omics.
Langkah ini melanjutkan penelitian genomik kulit masyarakat Indonesia yang telah diinisiasi ParagonCorp sejak 2021 sebagai fondasi untuk membangun pemahaman ilmiah yang semakin mendalam mengenai karakteristik biologis masyarakat Indonesia.
“Bagi kami, riset bukan sekadar cara menciptakan produk. Riset adalah cara memahami manusia. Dan kalau hari ini Paragon Corp dipercaya menjadi salah satu pemimpin di industri beauty Indonesia, kami percaya kami juga punya tanggung jawab untuk ikut mendorong kemajuan risetnya, agar semakin banyak inovasi yang lahir dari Indonesia untuk dunia. Dan saya percaya kalau Indonesia punya semua yang dibutuhkan untuk melahirkan riset kelas dunia,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO ParagonCorp.
Jika penelitian genomik membantu memahami kecenderungan biologis seseorang melalui informasi genetik, pendekatan multi-omics memungkinkan para peneliti melihat berbagai lapisan proses biologis yang saling berkaitan.
Melalui integrasi berbagai jenis data biologis, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai bagaimana faktor genetik, proses biologis di dalam tubuh, serta pengaruh lingkungan bersama-sama memengaruhi kondisi kulit.
“Kulit masyarakat Indonesia dibentuk oleh kombinasi karakteristik biologis, lingkungan tropis, dan gaya hidup yang sangat beragam. Karena itu, kami percaya pemahaman tentang masyarakat Indonesia juga perlu dibangun dari riset terhadap masyarakat Indonesia sendiri,” lanjut dr. Sari.
Penelitian ini akan dijalankan secara bertahap. Pada fase awal, ParagonCorp akan menghubungkan data genomik yang telah dimiliki dengan lapisan data biologis lainnya sebelum berkembang menuju analisis multi-omics yang lebih luas.
Dalam prosesnya, penelitian akan mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti metabolomik, lipidomik, dan proteomik, untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik kulit masyarakat Indonesia.
Kolaborasi dengan Corpora Science tidak hanya berfokus pada pelaksanaan riset, tetapi juga mencakup pemanfaatan fasilitas dan teknologi laboratorium, transfer pengetahuan antarpeneliti, serta penyusunan publikasi ilmiah bersama sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Sinergi ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan ilmiah sekaligus memperluas kolaborasi antara industri, lembaga riset, dan peneliti independen.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Direktur Operasional Corpora Science, Saptogiri, mengatakan bahwa pendekatan multi-omics membuka peluang untuk memahami sistem biologis manusia dari berbagai perspektif yang saling melengkapi.
“Tidak ada satu jenis data yang dapat menjelaskan seluruh kompleksitas manusia. Ketika berbagai informasi biologis mulai dihubungkan secara tepat, kita memiliki peluang untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai proses biologis yang berkaitan dengan kondisi kulit. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat berkontribusi dalam menghasilkan pengetahuan ilmiah yang memberikan manfaat bagi perkembangan sains di Indonesia,” ujarnya.
Bagi ParagonCorp, penelitian tidak selalu harus berujung pada peluncuran produk baru. Riset juga merupakan proses membangun pengetahuan, memahami pertanyaan yang belum terjawab, menguji berbagai asumsi ilmiah, serta memperkuat fondasi inovasi di masa depan agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
ParagonCorp berkomitmen untuk terus mengembangkan kapabilitas riset sebagai bagian dari perjalanan menghadirkan inovasi berbasis sains.
Melalui pengembangan riset multi-omics, ParagonCorp ingin turut membangun pemahaman mengenai karakteristik kulit masyarakat Indonesia yang semakin dekat dengan konteks biologis dan lingkungan tempat mereka hidup, sehingga setiap inovasi yang dihadirkan tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi benar-benar lahir dari pemahaman yang lebih mendalam terhadap manusia. [Din]




