DEBAT tak selalu buruk jika ditujukan kepada orang-orang kafir. Di situlah ada misi dakwah.
Pada tahun 330 hijriah lahir seorang ulama di Bashrah, Irak saat ini. Namanya Abu Bakar Muhammad bin Thayyib Al-Baqilani. Ia biasa disebut dengan Imam Al-Baqilani. Nama Al-Baqilani merujuk pada profesi orang tuanya sebagai tukang sayur.
Imam Al-Baqilani dikenal sebagai ahli akidah, ahli hukum, dan lainnya. Keilmuannya luar biasa. Ia terbiasa menulis kitab sebanyak 34 halaman setiap malam. Di sela waktunya, ia isi dengan qiyamul lail sebanyak 20 rakaat, juga setiap malam.
Diutung ke Konstantinopel
Pada tahun 371 hijriah, Khalifah mengutus Imam Al-Baqilani ke Raja Konstantinopel. Rupanya, undangan dari kerajaan Romawi itu disengaja untuk menjatuhkan seorang ulama Islam.
Raja sudah menyiapkan agar Al-Baqilani ‘kalah’ dan mendapatkan citra buruk. Di antaranya, Raja sengaja membangun pintu masuk ke ruang kerajaan lebih pendek dari biasanya.
Hal itu dimaksudkan agar Al-Baqilani masuk ke ruang kerajaan dalam posisi menunduk, seolah-olah membungkuk kepada raja.
Setibanya di lokasi, Al-Baqilani rupanya sudah memprediksi itu. Ia tidak jalan membungkuk. Melainkan, berjalan mundur dengan posisi badan membungkuk. Dengan begitu, posisi masuknya menjadi seperti penghinaan terhadap raja.
Barulah raja Romawi itu menyadari kalau orang yang di hadapannya itu bukan orang sembarangan. Raja pun memperkenalkan pendeta senior kerajaan. Usianya juga sudah tua.
Al-Baqilani langsung menyapa pendeta dengan penuh hangat, “Bagaimana kabar Anda, bagaimana kabar istri dan anak-anak Anda?”
Saat itu juga raja langsung menyela. Ia mengira Al-Baqilani tak tahu kalau pendeta tak menikah dan tidak punya anak.
“Tuan, Anda salah menyapa. Ia seorang pendeta utama. Mereka tak menikah dan tak punya anak,” ucap raja seolah mencibir Al-Baqilani karena dianggap tidak berpengetahuan luas.
Al-Baqilani mengatakan, “Masya Allah! Bagaimana mungkin Anda mensucikan pendeta Anda dari istri dan anak, tapi tidak mensucikan Allah dari Bunda Maryam dan Isa Al-Masih yang kalian anggap sebagai istri dan anak Tuhan!”
Raja mulai kesal. Ia langsung melayangkan kalimat ‘serangan’, “Kami mendengar kabar buruk tentang Aisyah, istri Nabi kalian?”
Al-Baqilani menjawab dengan tenang, “Kesucian seseorang tak akan luntur karena fitnah. Begitu pun dengan Bunda Maryam yang juga sama-sama difitnah telah berzina. Cuma bedanya, Aisyah tidak punya anak, sementara Bunda Maryam punya anak dan tanpa suami.”
Raja kian gelisah dengan jawaban itu. Ia pun langsung melemparkan kalimat serangan berikutnya.
“Apakah Nabimu ikut berperang?” ucapnya.
Al-Baqilani menjawab, “Ya. Beliau juga ikut berperang.”
“Apakah ia berperang di barisan terdepan atau hanya duduk di belakang?” tanya Raja.
Al-Baqilani menjawab, “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berperang di barisan terdepan.”
“Apakah Nabi kalian pernah kalah dalam peperangan?” tanya Raja lagi.
Al-Baqilani menjawab, “Pernah. Beliau dan pasukan pernah kalah dalam peperangan.”
Saat itu juga, raja dan para pejabat di istana tertawa. “Kok bisa, seorang Nabi memimpin peperangan tapi kalah?” ucapnya sambil terus tertawa.
“Menurut saya, justru nasib keadaan agama Anda lebih parah,” ucap Al-Baqilani.
“Apa maksudnya?” tanya raja.
“Kalau Nabi kami berperang dan kalah, tapi tidak terbunuh. Sementara, tuhan Anda tidak berperang dan mati disalib. Rasanya itu jauh lebih memprihatinkan!” pungkas Al-Baqilani.
Semua yang hadir di situ terdiam seribu bahasa.
**
Kecerdasan seorang ulama Islam itu melampaui ilmuan mana pun. Terlebih lagi terhadap mereka yang kafir. Karena secerdas-cerdasnya mereka, tidak mampu mencerna keberadaan Tuhan yang Maha Pencipta dan Berkuasa.
Jangan pernah minder atau rendah diri di hadapan mereka. Karena Islam jauh lebih tinggi dan mulia dari agama mana pun. [Mh]


