TIDAK semua kisah sahabiyah yang hidup pada masa Rasulullah memiliki cerita yang panjang dan sering dibicarakan. Sebagian nama justru hanya muncul dalam catatan sejarah, tetapi tetap menyimpan pelajaran yang menarik untuk direnungkan. Salah satunya adalah Juwairiyah binti Abu Sufyan.
Juwairiyah binti Abu Sufyan merupakan putri Abu Sufyan bin Harb dan Hind binti Utbah. Ia juga merupakan saudara perempuan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sumber sejarah menyebutkan bahwa Juwairiyah masuk Islam setelah Fathu Makkah dan termasuk perempuan yang berbaiat kepada Rasulullah.
Kisah hidupnya menunjukkan bahwa menjadi bagian dari generasi sahabat bukan hanya tentang kedekatan dengan Rasulullah, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani kehidupan setelah memeluk Islam.
Salah satu hal yang menarik dari Juwairiyah adalah keberaniannya. Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa ia turut berada dalam Perang Yarmuk. Bahkan, ada riwayat yang menyebutkan bahwa ia bersama sejumlah perempuan lainnya ikut berperan dalam peristiwa tersebut dan mengalami luka ketika terjadi serangan.
Baca Juga: Keteladanan Asma binti Mukhribah Sang Ibu Para Tokoh Mulia
Juwairiyah binti Abu Sufyan Sosok Shahabiyah yang Berani dan Penuh Pemikiran
Dari kisah tersebut, ada beberapa teladan yang dapat dipetik
Pertama, keberanian tidak selalu berarti berada di garis depan pertempuran. Keberanian juga berarti berani mengambil sikap ketika berada dalam situasi yang sulit. Juwairiyah hidup pada masa penuh perubahan dan menjadi bagian dari generasi yang menyaksikan perkembangan Islam secara langsung.
Kedua, kisahnya mengingatkan bahwa masa lalu seseorang tidak menentukan seluruh perjalanan hidupnya. Juwairiyah berasal dari keluarga Quraisy yang memiliki posisi penting dalam masyarakat Makkah. Setelah masuk Islam, ia menjadi bagian dari masyarakat Muslim dan menjalani kehidupannya sebagai seorang sahabiyah.
Ketiga, Juwairiyah menunjukkan bahwa perempuan pada masa awal Islam memiliki peran dalam berbagai keadaan. Sejumlah sumber sejarah mencatat keterlibatan perempuan dalam Perang Yarmuk, termasuk Juwairiyah.
Kisah Juwairiyah juga memperlihatkan pentingnya keluasan wawasan. Dalam riwayat yang dinukil Ibnu Asakir, ia pernah berbincang dengan saudaranya, Muawiyah, mengenai Ali bin Abi Thalib dan keutamaannya. Percakapan tersebut menunjukkan bahwa Juwairiyah memiliki perhatian terhadap persoalan tokoh dan kedudukan mereka dalam sejarah Islam.
Juwairiyah binti Abu Sufyan mungkin tidak termasuk nama sahabiyah yang paling sering kita dengar. Namun, justru dari kisah yang singkat tersebut kita dapat belajar bahwa setiap orang memiliki bagian dalam sejarah. Ada yang dikenal luas, ada pula yang hanya tercatat dalam beberapa halaman kitab.
Yang terpenting bukan seberapa sering sebuah nama disebut, melainkan nilai yang dapat kita ambil dari perjalanan hidupnya. Dari Juwairiyah, kita dapat belajar tentang keberanian, keteguhan setelah memeluk Islam, serta kesediaan mengambil bagian dalam kehidupan umat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Kisah para sahabiyah menjadi pengingat bahwa perempuan Muslim juga memiliki jejak penting dalam sejarah Islam. Juwairiyah binti Abu Sufyan adalah salah satu nama yang layak dikenali dan dipelajari kembali. [DW]




