ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Sabtu, 11 Juli 2020 | 21 Zulqaidah 1441 H
Login
Register

 


 
 
 
 
SYARIAH

Puasa Enam Hari Syawwal, Hukum, Tata cara, dan Keutamaan

28 May 2020 15:25:00
Puasa Enam Hari Syawwal, Hukum, Tata cara, dan Keutamaan
Foto: pixabay

oleh: Ustaz Farid Nu'man Hasan

ChanelMuslim.com - Dalil puasa enam hari di bulan Syawal.

ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺛﻢ ﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳﺘﺎ ﻣﻦ ﺷﻮاﻝ، ﻛﺎﻥ ﻛﺼﻴﺎﻡ اﻟﺪﻫﺮ

Siapa yang puasa Ramadan lalu diikuti puasa enam hari Syawwal maka dia seperti puasa setahun penuh.

(HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub al Anshari)

Hukum

- Sunnah, ini pendapat mayoritas ulama. Imam Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Daud azh Zhahiri. Serta Malikiyah, Syafi'iyah, Hambaliyah, dan Hanafiyah muta' akhirin. (Syarh Shahih Muslim, 8/56. Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/92). Imam Abdullah bin Al Mubarak mengatakan, ini puasa yang bagus, setara dengan tiga hari tiap bulan. (Sunan At Tirmidzi no. 759)

Perbedaannya, bagi Syafi’iyah ini sunnah bagi yang puasa Ramadan atau tidak puasa Ramadan. Bagi Hambaliyah, ini hanya sunnah bagi yang puasa Ramadan saja, jika tidak maka tidak disunnahkan. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 29/93)

- Makruh, ini pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. (Syarh Shahih Muslim, 8/56)

Alasan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, karena khawatir orang-orang awam menganggap itu bagian dari Ramadan. Imam Malik menambahkan belum pernah ada di Madinah orang shalih dan ulamanya melakukan itu. (Al Istidzkar, 3/379, Al Mawahib Al Jalil, 3/329, Raddul Muhtar, 8/35, Al Bada'i Ash Shana'i, 4/149)

Dalam fiqih Imam Malik, amalan penduduk Madinah adalah hujjah, tidak mungkin tradisi yang ada di Madinah yang begitu kuat jejak para sahabat nabi dikalahkan oleh satu hadits. Oleh karena itu, Imam Abdurrahman bin Al Mahdi mengatakan:

اﻟﺴﻨﺔ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﺔ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ.

Kebiasaan masa lampau dari tradisi penduduk Madinah itu lebih baik daripada hadits. (Muntaqa Syarh al Muwaththa', 1/93)

Namun, jika tidak dianggap bagian dari Ramadan tidak apa-apa. (Al Mawahib, 3/329)

Bagi Imam Abu Hanifah, makruhnya itu baik berturut-turut atau tidak. Sedangkan muridnya, Abu Yusuf, makruh jika berturut-turut, tapi jika tidak, tidak apa-apa. Berturut-turut itu menyerupai Nasrani. Sedangkan Hanafiyah generasi belakangan mengatakan sama sekali tidak apa-apa, dan makna seperti itu telah hilang. (Raddul Muhtar, 8/35, Bahrur Raa-iq, 6/133)

Imam ash Shan'ani telah menyanggah pihak yang memakruhkan bahwasanya setelah pastinya sebuah nash (dalil) maka tidak ada hukum bagi alasan-alasan mereka itu. Dan komentar terbaik adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Bar: “Sesungguhnya hadits ini belum sampai kepada Imam Malik, yakni hadits riwayat Muslim.” (Subulus Salam, 2/167)

Tata cara Puasa Syawwal

Bagi Imam Abdullah bin Al Mubarak, dilakukan di awal bulan, jika dilakukan tidak berturut-turut tidak apa-apa. (Sunan At Tirmidzi No. 759)

Syafi’iyah mengatakan lebih utama di awal bulan, dan berturut-turut. Jika tidak berturut-turut tidak apa-apa dan tetap dapat keutamaan. (Syarh Shahih Muslim, 8/56)

Hambaliyah mengatakan berturut-turut atau tidak, sama saja. Yang satu tidak lebih utama atas lainnya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)

Hanafiyah mengatakan lebih diutamakan tidak berturut-turut, tiap pekan dua hari saja. (Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/93)

Jika di awal-awal bulan tidak sempat, karena masih banyak kunjungan atau dikunjungi famili dan kerabat, tidak apa-apa dia menundanya karena menghormati hidangan tuan rumah juga perintah syariat.

Keutamaan Puasa Syawwal

Sebagaimana tertera dalam haditsnya, puasa Ramadan lalu disusul enam hari Syawwal, setara dengan puasa setahun penuh (360 hari). Sebab, 30 hari Ramadan plus enam hari Syawwal, adalah 36, sementara satu kebaikan akan dilipatkan 10 kali.

Sebagaimana hadits qudsi:

الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya. (HR. Bukhari No. 1894)

Apalagi jika dia juga melakukan puasa tiga hari tiap bulannya selain enam hari syawwal, maka dia seolah puasa dua tahun secara penuh. (Syaikh Abdul Muhsin al 'Abbad, Syarh Sunan Abi Daud, 13/327)

Syawwal dulu atau Qadha dulu?

Umumnya ulama mengatakan Qadha dulu, sebab:

Qadha adalah kewajiban, Syawwal adalah sunnah. Tentu kewajiban lebih didahulukan dibanding yang sunnah.

Keutamaan mendapat "puasa setahun penuh" itu bagi yang puasa Ramadhan dan enam hari syawwal, artinya tuntas Ramadhannya lalu enam hari syawwal. Jika dia masih menyisakan puasa Ramadhannya maka dia tidak dikatakan tuntas dan tidak mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh itu. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 18, Fatawa Nuur 'Alad Darb no. 191)

Tapi, bukan berarti terlarang seseorang mendahulukan Syawwal dulu. Pembahasan di atas adalah tentang keutamaan, bukan tentang boleh atau tidaknya. Dalam Sunan At Tirmidzi, dengan sanad hasan shahih, bahwa Aisyah Radhiallahu 'Anha melakukan qadha di bulan Sya'ban selanjutnya.

Oleh karena itu, Qadha bukanlah kewajiban yang segera, tapi kewajiban yang lapang waktunya (wujuban muwassa' an). (Fiqhus Sunnah, 1/470)

Khusus wanita, Tidak Tuntas karena Haid

Jika seorang wanita sudah qadha, lalu dilanjutkan Syawwal, ternyata bentur dengan jadwal haidnya sehingga puasanya tidak tuntas enam hari dan bulan Syawwal pun berakhir. Padahal dia sangat ingin menuntaskannya. Apakah dia tetap dapat keutamaannya? Semoga Allah Ta'ala tetap memberikan keutamaan tersebut berdasarkan dalil-dalil berikut:

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

من أتى فراشه وهو ينوي أن يقوم يصلي من الليل فغلبته عينه حتى يصبح كتب له ما نوى

"Barang siapa yang mendatangi kasurnya dan dia berniat untuk melaksanakan shalat malam, tapi dia tertidur hingga pagi, maka dia tetap mendapatkan apa yang diniatkannya."

(HR. Ibnu Majah No. 1344, dari Abu Dzar. Imam Zainuddin Al ‘Iraqi mengatakan: shahih. Lihat Takhrijul Ihya’, no. 1133)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ

“Barang siapa yang berhasrat melakukan kebaikan lalu dia belum mengerjakannya maka dicatat baginya satu kebaikan. “ (HR. Muslim no. 130, dari Abu Hurairah )

Hadits lain:

نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

“Niat seorang mu’min lebih baik dari pada amalnya.”

(HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, 6/185-186, dari Sahl bin Sa'ad as Saidi. Imam Al Haitsami mengatakan: “ Rijal hadits ini mautsuqun (terpercaya), kecuali Hatim bin ‘Ibad bin Dinar Al Jursyi, saya belum melihat ada yang menyebutkan biografinya.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 1/61)

Demikian. Wallahu a'lam.[ind]

 
Info Video CMM :
 
https://www.youtube.com/watch?v=H0GOiHiFF2M
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
TOPIK :
puasa enam hari syawwal
hukum
tata cara
dan keutamaan
 
BERITA LAINNYA
 
 
SYARIAH
15 June 2020 22:28:43

Batasan Saudara Sepersusuan

 
ADVERTORIAL
11 July 2020 06:00:00

Kini Qurban Bisa Melalui ChanelMuslim.com

 
SYARIAH
28 August 2019 22:12:06

Menghitung Masa Iddah Jika Haid Tidak Teratur

 
SYARIAH
11 June 2020 23:13:28

Doa agar Terhindar dari Gangguan Jin

 
SYARIAH
12 June 2019 21:20:05

Menikah di Bulan Syawal

 
SYARIAH
07 July 2019 21:14:50

Aqiqah Dulu atau Berkurban?

global qurban, chanelmuslim global qurban
 
 
 
TERBARU
 
sekolah qurban, qurban 2020
 
 
TERPOPULER
 
 
Muslimah Creative Stream Fest Vol 2 2020
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga