ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Jumat, 04 Desember 2020 | 19 Rabiul Akhir 1442 H
Login
Register

 


 
 
 
 
EDITORIAL

Momen Menggali Teladan Nabi

27 October 2020 14:17:10
Maulid, Rasulullah
Ilustrasi, foto: Rumah Hufazh

ChanelMuslim.com- Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kembali diperingati umat Islam. Momen ini tentu bukan dimaksudkan sebagai perayaan ulang tahun. Melainkan, sebagai momen untuk menghidupkan kembali kecintaan dan keteladan Rasulullah saw.

Sayangnya, tidak semua umat memposisikan Maulid ini seperti yang diarahkan para ulama. Maulid kadang sekadar sebuah ritual budaya rutin yang tidak menyentuh pada esensinya: cinta dan teladan Rasulullah saw.

Cinta tak akan muncul sebelum mengenal lebih dalam siapa Rasul, pengalaman hidupnya, interaksi dengan keluarga dan lingkungannya, dan tentu saja, hikmah dan sunnah yang beliau ajarkan. Jika kurang kenal, sosok Rasul tak lebih seperti wujud suci yang dinamika hidupnya hanya duduk di tempat ibadah, dan sesekali keluar untuk menebar pencitraan.

Tanpa kenal, sosok Rasul pun akan hanya berwujud kaligrafi bertuliskan Muhammad yang patut diucapkan shalawat dengan berbagai versi, dan sirna begitu saja setelah ritualitas itu selesai.

Seorang penceramah Maulid pernah bertanya kepada para panitia Maulid. “Ada berapa putera-puteri Rasulullah saw.?” Para panitia terdiam. Mereka tidak pernah merekam memori itu, bahkan mungkin tidak pernah mendengar pengenalan sosok Rasul seperti itu.

Sang penceramah pun melanjutkan, “Jadi panitia tiap tahun, ditanya ada berapa anak-anak Nabi saja pada bingung. Belum ditanya siapa namanya. Belum ditanya bagaimana kehidupannya. Lalu, di mana hikmah Maulidnya?”

Belum lagi tentang sosok-sosok sahabat mulia Nabi saw. Boleh jadi, yang hanya diketahui sebagian besar umat bahwa sahabat Nabi itu hanya empat. Yaitu, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali radhiyallahu a’nhum.

Kalau sosok Nabi hanya dipersepsikan begitu statis dan suci seolah tak pernah bersentuhan dengan dunia nyata, begitu pun dengan sahabat Nabi yang dikenal hanya empat orang; bagaimaan mungkin akan ada perubahan dalam umat ini untuk menghidupkan sunnah Nabi saw. dalam dunia nyata.

Seorang ulama kontemporer yang juga penulis tafsir Azhzhilal, Sayid Quthb, pernah mengulas. Kenapa ada perbedaan signifikan antara generasi sahabat dengan generasi umat saat ini? Padahal, Alqurannya sama, Nabinya sama, sunnahnya juga sama, dan seterusnya.

Beliau melanjutkan, setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan itu. Para sahabat hanya menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai rujukan utama. Umar bin Khaththab pernah ditegur Nabi saw. saat memegang lembaran mushaf Taurat. Kata Nabi saw., sekiranya Rasul yang diturunkan kitab Taurat hidup saat ini, niscaya ia akan berpegang pada Alquran.

Kedua, para sahabat menjadikan semua yang ada dalam Alquran dan Sunnah untuk disikapi dengan sami’na wa’atho’na (kami dengar, dan kami taati). Ketika perintah larangan khamar turun, semua stok khamar yang dimiliki umat saat itu dibuang hingga Madinah seperti banjir khamar.

Tak seorang pun dari mereka yang mencari celah untuk berkilah: “Siapa tahu ada sedikit manfaat dari khamar. Siapa tahu ayat itu tidak bermaksud seekstrim itu.” Dan seterusnya…

Begitu pun ketika perintah berjilbab turun. Semua muslimah di mana pun saat itu ia berada, sesegera mungkin mencari kain apa pun untuk menutup auratnya. Tidak ada di antara mereka yang mencari alasan: “Idealnya memang begitu, tapi segalanya kan harus bertahap. Ya, itu kan perintah ideal, tapi budaya kita kan tidak seperti itu.” Dan seterusnya…

Ketiga, para sahabat tidak pernah terbersit untuk kangen-kangenan dengan budaya jahiliyah setelah mereka memeluk Islam. Inilah Islam kaffah mereka. Tidak ada yang kepikiran untuk mencicipi lagi khamar yang telah mereka jauhkan. Meskipun, dulunya mereka terbiasa dengan itu. Tidak ada yang berhasrat lagi untuk berzina seperti masa jahiliyah dulu, meskipun dulunya hal itu biasa mereka lakukan.

Umar bin Khaththab pernah menangis dan kemudian tertawa dalam waktu yang tidak berjauhan. Seorang sahabat bertanya apa hal yang menyebabkan itu terjadi. Umar menjelaskan, saya menangis ketika teringat masa jahiliyah menguburkan puterinya hidup-hidup. “Betapa bodohnya aku…,” ujarnya.

Umar tertawa ketika mengingat saat ia memiliki berhala yang terbuat dari kue. Ia sembah-sembah berhala itu. Tapi manakala ia dan keluarganya lapar dan tidak ada makanan di rumah itu, berhala itu pun ia makan. “Betapa bodohnya aku…,” ujarnya.

Maulid sepatutnya menjadi momen untuk menggali sosok mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian, menjadikan sosok itu sebagai keteladanan yang hidup. Bukan sekadar ritualitas budaya yang datang dan pergi begitu saja.

Bahkan parahnya, sebagian besar mungkin hanya tahu tanggal merah dan libur panjangnya saja. Tapi blank kalau momen libur itu adalah momen untuk menggali kecintaan dan ketaladanan terhadap Nabi Muhammad saw. (Mh)

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
TOPIK :
maulid
rasulullah
 
BERITA LAINNYA
 
 
EDITORIAL
28 May 2020 15:19:41

Selamat Datang di Negeri Herd Immunity

 
EDITORIAL
08 July 2020 16:01:33

Ketika Sandal Jepit Menjadi Mahar

 
EDITORIAL
14 October 2020 14:16:18

Generasi Badut

 
 
EDITORIAL
16 May 2020 07:35:18

Tarik Ulur PSBB yang Bikin Bingung

Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 

 
 
TERBARU
 
cmm market
 
 
TERPOPULER
 
 
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga
JANGKAU LEBIH LUAS KONSUMEN ANDA,
beriklan di ChanelMuslim.com
Hotline : 0811.1362.284