ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Selasa, 07 Juli 2020 | 17 Zulqaidah 1441 H
Login
Register

 


 
 
 
 
EDITORIAL

Hidup Berdampingan dengan Corona

29 May 2020 16:43:18
corona, herd immunity
Ilustrasi, foto: bbc.com

ChanelMuslim.com- Pandemi wabah corona belum berakhir. Meski tiga bulan warga melakukan aktivitas serba di rumah, angka kenaikan per hari secara nasional masih tetap tinggi: berkisar antara 400 hingga 600 orang terinfeksi. Sementara, obat dan vaksin masih menunggu satu setengah tahun lagi. Bisakah kita hidup berdampingan dengan corona?

Organisasi kesehatan dunia, WHO, mengeluarkan penjelasan tentang yang disebut ‘New Normal Life’, atau hidup normal baru. Istilah itu merujuk pada aturan hidup baru pasca menurunnya wabah corona. Hal ini ditandai dengan data penurunan selama kurang lebih 14 hari.

Pertanyaannya, apakah kita sudah memenuhi syarat untuk memasuki ‘new normal’? Jawabannya mungkin berbeda-beda di tiap daerah. Ada wilayah yang angka penularannya menurun drastis, seperti DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, dan beberapa daerah lain. Ada juga yang justru mengalami peningkatan luar biasa, seperti yang terjadi di Jawa Timur.

Secara teori, penyekatan wilayah memang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah. Tapi pada prakteknya, penyekatan sangat sulit dilakukan. Karena yang disekat bukan hewan atau benda mati, melainkan manusia yang memiliki seribu satu hajat hidup. Mulai dari ekonomi, pendidikan, ibadah, hingga kebutuhan untuk melakukan pesta perkawinan.

Untuk hal yang terakhir tadi, kita tidak bisa menganggap enteng untuk ditiadakan. Karena perayaan pesta pernikahan atau dalam istilah agama disebut walimatul ursy mempunyai posisi begitu penting dalam syariat Islam. Kalau dalam undangan acara lain orang bisa saja tidak tertarik untuk datang, tapi untuk yang ini syariat sangat menekankan untuk hadir.

Belum lagi hal wajib lain yang tidak bisa tidak, kecuali dilakukan dengan kerumunan seperti pelaksanaan shalat Jumat berjamaah di masjid. Jika satu hingga tiga bulan umat bisa dengan suka rela mengikuti aturan ibadah di rumah, tapi tidak untuk waktu di atas itu. Karena bangsa ini mustahil bisa hidup normal tanpa kedekatan dengan masjid: di kota, apalagi di kampung-kampung.

Yang membedakan antara orang Indonesia dengan Arab Saudi dalam keterikatan dengan masjid pada soal emosional mereka. Di Arab Saudi, masjid atau mushola dibangun secara resmi oleh pemerintah. Sementara di Indonesia, warga sendiri yang membangun masjid dan mushola mereka. Mulai dari tanah, bangunan, hingga pemeliharaan dan pengelolaan.

Jadi, sangat wajar jika di negeri ini warganya seolah memiliki regulasi sendiri soal bagaimana mereka berhubungan dengan masjid atau mushola. Masjid atau mushola seolah seperti anak kandung mereka yang harus didatangi, disayang, dipelihara, dan dimakmurkan.

Berbeda dengan Arab Saudi, bahkan negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura. Di sana, masjid atau mushola berdiri seratus persen atas biaya negara. Termasuk pula pemeliharaannya. Bahkan, imam dan marbot masjid digaji oleh negara. Jadi, jangan heran jika di negeri-negeri itu, tidak terlihat kotak amal yang berkeliling saat pelaksaan shalat Jumat atau berjamaah rutin.

Jadi, dalam hal nyata di lapangan, teramat sulit memaksa bangsa ini untuk tetap serba di rumah. Terlebih lagi secara ekonomi bangsa ini mayoritas penduduknya memiliki penghasilan secara wiraswasta, atau bukan pegawai kantoran.

Hidup Berdampingan dengan Corona

Boleh jadi, new normal untuk orang Indonesia akan sangat berbeda dengan warga lain di Eropa, Korea, Jepang, Amerika, dan lainnya. Karena di mereka, new normal adalah kehidupan baru yang memiliki regulasi jelas atau ada SOPnya. Seperti, berkantor lagi, bisnis lagi, dan sekolah lagi.

Namun di Indonesia, new normal yang dipahami bangsa ini adalah kembalinya budaya dan interaksi sosial mereka. Mereka bisa menggelar dagangan lagi. Mereka bisa saling berkunjung dengan tetangga dan sanak keluarga lagi. Mereka bisa berkumpul dengan saudara-saudara seiman di masjid atau mushola lagi. Mereka bisa “kongkow-kongkow” di warung lagi. Dan seterusnya.

Bagaimana mungkin bisa membuat regulasi ketat pada aktivitas seperti itu. Karena aktivitas mereka sejatinya memang tidak memiliki regulasi. Melainkan, mengalir begitu saja menurut adat istiadat, zaman, dan kesukaan.

Hidup berdampingan dengan corona mungkin kata yang paling pas untuk kembali membangkitkan semangat hidup bangsa ini. Berdampingan menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dielakkan, tapi tidak menjadi risiko besar.

Bagaimana caranya? Teori kesehatan menyatakan, mencegah lebih baik dari mengobati. Sayangnya, orang hanya memahami mencegah dalam arti pendekatan fisik. Padahal, pencegahan bisa lebih efektif dengan cara psikologis.

Pertama, dengan cara menguatkan keyakinan yang sudah terkompilasi dalam nilai-nilai keimanan. Mereka memahami bahwa takdir baik dan buruk adalah Kehendak Allah swt. Dan, peluang hamba Allah hanya pada ikhtiar dan doa. Orang menjadi ridho terhadap apa yang Allah takdirkan dalam hidup mereka. Jika nilai ini yang terus-menerus dimantapkan, orang akan memiliki imunitas luar biasa dalam jiwa mereka.

Kedua, kebersamaan memiliki kekuatan. Hanya di Indonesia yang warganya tidak bisa hidup tanpa paguyuban. Ada paguyuban yang memiliki keterkaitan dengan suku, keluarga besar, profesi, organisasi, tempat tinggal, dan tentu saja agama.

Jika interaksi dan kenormalan hubungan dalam paguyuban ini terjalin baik, orang akan memiliki semangat hidup yang tinggi. Bahagia, dan tidak gampang stress.

Ketiga, membiasakan kembali dengan pengobatan tradisional Indonesia seperti rempah, dedaunan, pijat, buah, air, dan sinar matahari. Jadi, jangan melulu menerjemahkan obat dengan produk medis kedokteran. Karena, justru hal inilah yang masih dirasa asing oleh sebagian besar bangsa ini. Selain biayanya lumayan besar.

Misalnya, kalau sakit demam silakan minum air kelapa hijau atau kelapa muda. Konsumsi madu dan rempah yang sudah diolah. Dan seterusnya. Inilah kelebihan bangsa Indonesia dalam hal pengobatan alami yang tidak dimiliki bangsa lain.

Jadi, hidup berdampingan dengan corona tidak selalu ditafsirkan dengan kehidupan kaku dengan standar kesehatan fisik saja. Lebih dari itu, harus juga menghidupkan nilai-nilai spiritual dan budaya khas pengobatan Indonesia yang tidak kalah ampuhnya dengan obat sintetis yang belum jelas ampuhnya untuk corona. (Mh)

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
TOPIK :
corona
herd immunity
 
BERITA LAINNYA
 
 
EDITORIAL
20 January 2020 15:13:00

Bully dan Budaya Keluarga Kita

 
ADVERTORIAL
07 July 2020 06:00:00

Kini Qurban Bisa Melalui ChanelMuslim.com

 
EDITORIAL
03 April 2020 09:16:32

Jakarta, Oh Jakarta!

 
EDITORIAL
21 August 2019 15:59:05

Ceramah UAS dan Penistaan Agama

 
EDITORIAL
17 December 2019 05:04:03

Selamat Datang di Negeri Jumanji

 
EDITORIAL
03 February 2020 10:40:09

Selamat Jalan, Guru Bangsa, KH Sholahuddin Wahid

Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
 
 
TERBARU
 
global qurban, chanelmuslim global qurban
 
 
TERPOPULER
 
 
Muslimah Creative Stream Fest Vol 2 2020
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga