ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Jumat, 16 November 2018 | 7 Rabiul Awwal 1440 H
Login | Register

 
Kode Transfer 427 BNI Syariah

Kode Transfer 427 BNI Syariah

 
 
 
 
PARENTING

Mengenal Pahlawan Indonesia, Muhammad Natsir

17 August 2018 21:34:24 #muhammad #natsir #pahalawan #indonesia
Muhammad Natsir

ChanelMuslim.com – Sebelum Indonesia merdeka, kita mengalami masa-masa penjajahan yang begitu memerihkan. Bangsa Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang silih berganti datang ke Indonesia. Dengan dalih berdagang, mereka datang untuk mengeruk kekayaan Indonesia.

73 tahun sudah kemerdekaan Indonesia di proklamasikan. Agar anak-anak tidak kehilangan akar sejarahnya ada baiknya Ayah Bunda mengenalkan mereka pada sejarah bangsanya. Ada banyak peristiwa dan tokoh yang bisa kita jadikan pelajaran bagaimana para pendahulu kita berjuang mempertahankan tanah air. Salah satunya adalah dengan mengenalkan pahlawan nasional, Muhammad Natsir.

Muhammad Natsir hampir saja tertelan masa dan tidak muncul dalam khazanah sejarah perjuangan bangsa kita. Hingga akhirnya ia dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2008.

Muhammad Natsir adalah salah satu tokoh Islam yang hingga akhir hidupnya tetap berprinsip bahwa Negara harus berdasarkan asas islam. Diyakini oleh Natsir, Islam merupakan agama yang mengutamakan nalar alias akal sehat dalam pengamalan setiap ajarannya. Maka itu, baginya, bukan hal yang salah jika Islam turut berperan dalam membangun bangsa melalui pemerintahan. Bahkan, Natsir punya alasan kuat untuk mendudukkan Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Muhammad Natsir kecil dulunya lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang 17 Juli 1908. Saat menetap di Alahan Panjang karena menjadi pegawai Belanda di pemerintahan setingkat kecamatan di Alahan Panjang, Ayah M. Natsir, Mohamad Idris Sutan Saripado tinggal di rumah seorang saudagar kopi kaya di Alahan Panjang, Sutan Rajo Ameh.

Baca juga : Perilaku Agresif pada Anak

Di rumah besar itu, Keluarga Sutan Rajo Ameh bersama istrinya Siti Zahara dan anak-anaknya tinggal di bagian kiri rumah. Sementara ayah Mohammad Idrus Saripado dan Istrinya Khadijah bersama anaknya menempati rumah bagian kanan.

Sewaktu kecil ini Pak Natsir orangnya lugu, jujur dan punya sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin, selain itu Natsir juga suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan suka membantu mencuci piring.

Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga ke surau, belajar mengaji. Surau itu tidak jauh dari rumahnya, di depan lapangan. Namanya Surau Dagang yang didirikan oleh pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Pedagang ini berjualan tiap pekan di Pasar Perserikatan Alahan Panjang tak jauh dari surau itu. Surau itu dulunya dari kayu, lantainya bambu dan atapnya dari daun rumbia, kini sudah berubah menjadi Masjid Al Wusta.

Tidak banyak yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang, karena orang-orang segenerasi dengan Natsir apalagi generasi di atas Natsir sudah tidak ada lagi. Apalagi Natsir tinggal di Alahan Panjang hanya pada masa sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR) di Kota Solok.

Baca juga : Ayah Bunda, Inilah 6 Manfaat Berkisah untuk Ananda

Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah.

Besar dalam nuansa pergerakan, Natsir pun tidak ingin ketinggalan terlibat di dalamnya. Tahun 1923, ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB) dan Jong Sumatranij Bond (JSB). Di sinilah ia mulai bersinggungan dengan para pemuda pergerakan nasional asal Sumatera Barat yang kelak bersama-sama menopang berdirinya RI, termasuk Mohammad Yamin dan Bahder Johan.

Natsir kemudian melanjutkan studinya ke Bandung, tepatnya di Algemeene Middelbare School (AMS). Di sinilah pemikirannya tentang agama dan nasionalisme berkembang pesat. Ia berhubungan baik dan kerap bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh Islam terkemuka macam Agus Salim, Ahmad Hassan, dan lainya.

Latar belakang Islam yang kuat tidak membuat Natsir alergi dengan modernitas, bahkan yang kental beraroma Barat sekalipun. Justru sebaliknya, jika umat Islam di Indonesia ingin maju, maka pendidikan adalah kunci utamanya.

“Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung pada pengajaran dan pendidikan yang berlaku di dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu pun bangsa terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya melalukan dan memperbaiki pendidikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka,” sebut Natsir (1961: 51).

Di masa pasca kemerdekaan Natsir dianggap “memberontak” oleh kepemimipinan Soekarno. Kemudian juga dianggap sebagai “musuh” oleh rezim Orde Baru. Beliau dikaruniai umur panjang. Ia meninggal dunia di Jakarta tanggal 6 Februari 1993 dalam usia 84 tahun dengan tetap memegang teguh prinsipnya tentang Islam dan nasionalisme kendati tidak pernah direstui negara. (MAY0

*Sumber:

- Bulanbintang.wordpress

- Tirto,Id

Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
toko bunga bogor, jual bunga papan, bunga papan, budget florist
 
TOPIK :
muhammad
natsir
pahalawan
indonesia
 
BERITA LAINNYA
 
 
ADVERTORIAL
16 November 2018 06:00:00

Mau Transfer ke BNI Syariah ? Gunakan Kode transfer 427

 
PARENTING
20 October 2018 07:22:38

Kalimat Bertuah Para Ibu

 
PARENTING
25 June 2018 09:00:52

Menjaga “Manners” Anak-anak Kita

 
PARENTING
30 March 2018 12:31:52

5 Pemicu Stres Pada Anak


 
 
Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
TERBARU
 
Buku Pilu di Palu Mam Fifi
 
Almatour Haji dan Umroh
 
TERPOPULER
 
 
Jual Buku Mencintaimu Dengan Cinta Yang Lebih Tertata Penulis Fifi P.Jubilea
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga